LOGO gii

Publikasi
Artikel Populer

IDR 60K – 100K

BENCHMARKING SEBAGAI AJANG STUDY TIRU PENINGKATAN MUTU SEKOLAH

EKO PUJI DIANAWATI, S.P

EKO PUJI DIANAWATI, S.P

GURU SMK NEGERI 1 NANGGULAN

Kegiatan benchmarking dahulu hanya dimiliki oleh dunia bisnis dan ekonomi saja. Di bidang ilmu manajemen khususnya, benchmarking sendiri memiliki pengertian yaitu suatu upaya mengukur kebijakan dalam suatu program perusahaan, produk yang dihasilkan, strategi peningkatan kualitas, dan hal lainnya. Upaya benchmarking di sini dengan cara membandingkannya dengan kompetitor dari perusahaan lain yang bergerak pada bidang usaha yang sama, agar mendapatkan informasi tentang, bagaimana cara dan bagian apa saja yang sebaiknya di evaluasi sebagai upaya meningkatkan manifestasi maupun performa perusahaan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan tuntutan zaman yang berkembang secara dinamis, saat ini dunia pendidikan pun mulai mengadopsi kegiatan benchmarking sebagai upaya study tiru untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Perkembangan revolusi industri 4.0 merupakan teknologi manufaktur yang menggabungkan tren teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber dan pertukaran data. Hal tersebut tentunya mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (LoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Revolusi industri 4.0 itu sendiri secara fundamental lebih menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia seperti mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perubahan yang sangat dramatis dan terjadi secara kecepatan eksponensial ini didukung oleh inovasi teknologi digital dan internet, yang memang menghadirkan usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru bahkan munculnya transportasi dengan sistem ride-sharing seperti Gojek, Grab selain itu kita juga mengenal elektronik ticketing dari traveloka. Terkait dengan revolusi industri 4.0 maka upaya dunia pendidikan agar bisa sukses menyelaraskan, harus dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas berkarya dan berinovasi melalui talenta para peserta didiknya.

Tampak dari upaya Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, dengan adanya salah satu program prioritas di tahun 2021 yaitu terkait Penetapan Sekolah Menengah Kejuruan Sebagai Pelaksana Program SMK Pusat Keunggulan (SMK PK). Program ini merupakan model satuan pendidikan bermutu untuk jenjang SMK yang berfokus pada pengembangan serta peningkatan kualitas dan kinerja SMK, dengan bidang prioritas program keahlian yang tentunya dalam pencapainnya diperkuat melalui adanya kemitraan dan penyelarasan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta perlunya kolaborasi pemerintah daerah setempat beserta civitas perguruan tinggi vokasi sebagai pendamping.

Dari hal di atas, maka penting bagi SMK yang mendapatkan program SMK PK dari Dirjen Pendidikan Vokasi tersebut termotivasi menyamakan frekuensi dan harus mulai terbuka mindset seluruh warga sekolah untuk keluar dari zona nyaman dan mulai berkolaborasi serta berinovasi mengembangkan sekolah bermutu. Penting untuk diingat kembali bahwa tujuan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah fokusnya pada outcomes menghasilkan relevansi lulusan yang berkualitas secara kompetensi keilmuan maupun secara kemampuan soft skillnya. Jadi mutu lulusan harapannya memiliki keseimbangan kemampuan hard skills dan soft skills.  

Sekolah PK harus terbuka untuk selalu evaluasi diri secara terus menerus dengan melihat potret diri melalui Rapor Pendidikan, sehingga setiap perencanaan yang diprogramkan berbasis data. Selain itu dengan “legowo” untuk tidak menutup mata, namun terbuka dan mau mengakui keunggulan sekolah lain. Dengan terbukanya mindset warga sekolah untuk mensejajarkan diri terhadap keunggulan yang dimiliki sekolah lain maka dengan semangat memajukan kualitas mau mengadopsi keunggulan sekolah lain dalam berbagai bidang.

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah PK adalah dengan cara melakukan benchmarking. Kegiatan benchmarking ini merupakan proses pengukuran kinerja sekolah secara konsisten membandingkan dirinya dengan sekolah lain yang terbaik dan berkesinambungan untuk melaksanakan study tiru dalam perbaikan kinerja internal maupun eksternal yang diawali dengan dapat mengidentifikasi, mengadaptasi keunggulan dan kelebihan sekolah lain, mengadopsi dan mengaplikasikan praktik-praktik yang lebih baik secara signifikan. Dapat dikatakan bahwa praktik yang telah dilakukan sekolah terbaik tersebut digunakan sebagai patokan (benchmark) atau standar kinerja normatif oleh sekolah yang ingin memperbaikinya.

Benchmarking dalam dunia pendidikan dilakukan dengan proses mengadaptasi keunggulan dan kelebihan suatu sekolah yang lebih unggul dalam bentuk visi misi, standar mutu sekolah, pengembangan kurikulum integrated yang selaras dengan DUDI, program kerja sekolah, tim menajemen mutu, standar pengelolaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), standar sarana prasarana, standar kompetensi lulusan, strategi pengembangan sekolah, jejak alumni (tracer study), standar pelayanan, proses belajar mengajar, budaya sekolah maupun karakter yang terjadi di sekolah tersebut untuk diadaptasi dan dikembangkan di sekolah.

Tahapan benchmarking meliputi identifikasi kebutuhan yang ingin diperbaiki sekolah yang akan dijadikan sebagai pembanding atau lokasi study tiru, menyusun perencanaan, melakukan pencarian (search), observasi (observe), analisis (analyze), dan adaptasi (adapt). Dalam siklus benchmarking diawali dengan: 1) menentukan apa yang akan di benchmark, sebagai contoh: proses lama yang memerlukan perbaikan (jalinan dan MOU dengan DUDI), suatu permasalahan yang membutuhkan solusi (budaya literasi), suatu perencanaan proses baru (tracer study), suatu proses upaya perbaikan yang selama ini belum berhasil (kedisiplinan). 2)  menentukan apa yang akan diukur, dengan memilih yang paling kritis dan besar kontribusinya terhadap perbaikan dan peningkatan mutu misal tentang pengelolaan teaching factory (TEFA) dan BLUD. 3) menentukan kepada siapa akan dilakukan benchmark, yaitu dengan memandang sekolah yang mempunyai reputasi baik sesuai kriteria kompetensi keahlian, 4) pengumpulan data saat kunjungan misal mengirim kuesioner kepada sekolah yang akan di benchmark sebagai informasi pendahuluan sebelum kunjungan dan dilanjutkan kunjungan langsung (site visit) dengan “pemilik proses” yaitu orang yang benar-benar terlibat langsung mengelola proses tersebut, 5) analisis data, contoh sekolah sukses menjalankan TEFA ternyata karena fokus pada beberapa komoditas atau produk yang merupakan permintaan suatu DUDI. Hal ini dapat menentukan adanya kesenjangan (gap) diantara sekolah tersebut sehingga perlu membandingkan situasi kualitatif misal tentang sistem, prosedur, bentuk kerja sama dan sikap kerja. 6) merumuskan tujuan dan rencana tindakan, misal dengan menyusun target yang harus dicapai dengan realistis sesuai keadaan kemampuan sekolah, sumber daya, waktu, dengan spesifik, terukur dan tentunya didukung oleh managemen juga untuk menentukan standar. Setelah tindakan dilakukan tentunya pemantauan kegiatan penting adanya dan dilanjutkan dengan mengevaluasi secara bertahap terhadap rencana untuk mengatasi persoalan yang muncul.

Adapun manfaat kegiatan benchmarking adalah mendorong terciptanya suatu budaya perbaikan terus menerus, saling menghargai kinerja orang lain dan prestasinya, membangun indera, intuisi akan pentingnya perbaikan yang dijalankan secara continuous improvement dengan suatu kolaborasi jaringan dan kemitraan yang telah terbentuk, maka berbagi praktik baik dan terbaik dapat saling menciptakan iklim growth mindset untuk selalu terbuka akan kedinamisan proses perbaikan mutu pendidikan. Proses pelaksanaan benchmarking yang dijalankan secara terus menerus dan berkelanjutan sangat bermanfaat bagi peningkatan kinerja sekolah agar tetap kompetitif dan produktif memberikan bekal keunggulan kompetensi dengan keseimbangan soft skills dan hard skills, menjadikan generasi Z yang kreatif, inovasi dan kecakapan teknologi bagi peserta didik. Sehingga mutu lulusan sekolah akan cepat terserap di DUDI selaras sesuai kompetensinya memenuhi pasar revolusi industri 4.0. Hal ini terlihat dari capaian hasil tracer study. Benchmarking sebagai kegiatan agen perubahan zona nyaman, bukan hanya sekedar study tiru, namun lebih pada trik jitu pengelolaan sekolah untuk meraih taktik menahkodai mutu sekolah sebagai lembaga pendidikan mencapai predikat unggul kompetitif secara sempurna.

Tags

Share this post:

Postingan Lain

One Response

  1. Terima Kasih pada Radaredukasi.com sebagai sarana berbagi praktik baik, saling memotivasi belajar, berkarya dan berinovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I