Ulfi Afiyah
Mahasiswi Teknologi Pangan S1/ Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
kufiyafi@gmail.com
Gambar: Berbagai Makanan Siap Saji
Sumber: pexels.com
Pagi ini, mungkin Anda sarapan dengan nasi goreng atau sepotong roti. Siangnya makan soto, malamnya mie instan atau nasi padang bungkus. Kita makan tiga kali sehari tanpa pernah bertanya: apakah makanan ini aman untuk tubuh saya? Padahal di balik sepiring makanan, ada banyak hal yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Ada bakteri, zat kimia berbahaya, dan bahan pengawet yang seharusnya tidak ada di sana. Inilah alasan mengapa ada yang namanya analisis pangan. Bidang ilmu ini berperan untuk memeriksa keamanan dan kandungan makanan. Tanpa analisis pangan, kita tidak benar-benar tahu apa yang masuk ke dalam tubuh kita setiap hari.
Apa Itu Analisis Pangan? Gampangnya Begini…
Bayangkan Anda membuat segelas jus jeruk di rumah. Sekilas jus itu terlihat segar dan enak, namun hanya dari penampilan kita tidak bisa tahu berapa banyak vitamin C yang terkandung di dalamnya. Kita juga tidak bisa mengetahui apakah ada zat lain yang tidak diinginkan ikut masuk. Nah, analisis pangan dilakukan untuk mencari tahu berbagai informasi penting yang ada di balik tampilan makanan.
Para ahli pangan memeriksa makanan di laboratorium untuk menjawab sejumlah pertanyaan penting: Apakah makanan ini mengandung gizi cukup? Apakah ada bakteri jahat di dalamnya? Apakah kadar gulanya sesuai dengan yang tertulis di kemasan? Dari pemeriksaan itulah kita tahu apakah makanan yang hendak kita konsumsi benar-benar aman.
Bahaya yang Tidak Terlihat di Makanan Kita
Banyak bahaya dalam makanan yang tidak bisa kita lihat, cium, atau rasakan. Makanan yang terlihat segar dan enak belum tentu bebas dari kontaminasi berbahaya. Makanan berwarna cerah pun belum tentu bebas dari pewarna yang dilarang. Inilah yang membuat analisis pangan menjadi sangat penting dan tidak bisa diabaikan.
Formalin, misalnya, adalah cairan yang biasa dipakai untuk mengawetkan mayat di rumah sakit. Tapi nyatanya, formalin masih ditemukan pada sejumlah bahan makanan seperti mie basah, tahu, dan ikan asin yang dijual di pasar. Makanan yang diawetkan formalin justru terlihat lebih segar dan tahan lama tanpa bau aneh yang mencurigakan. Padahal jika terus-menerus masuk ke tubuh, formalin bisa merusak lambung dan usus, bahkan meningkatkan risiko kanker.
Lalu ada pestisida. Petani menyemprot sayuran dan buah dengan pestisida untuk mengusir hama. Masalahnya, sisa pestisida itu bisa menempel di permukaan sayuran hingga ke meja makan kita. Paparan pestisida berlebihan dalam jangka panjang bisa memengaruhi kesehatan ginjal, hati, bahkan sistem saraf (Zhang et al., 2020). Efeknya bisa menumpuk perlahan tanpa kita sadari jika terpapar setiap hari.
Belum lagi bakteri. Bakteri seperti Salmonella dan E. coli tidak bisa dilihat sama sekali. Tapi jika ada di makanan yang kita makan, dampaknya langsung terasa: perut mulas, muntah, diare, bahkan demam tinggi. Kasus keracunan makanan seperti ini sebenarnya sering terjadi, hanya saja atidak selalu dilaporkan.
Lalu, Siapa yang Memeriksa Semua Itu?
Di Indonesia, ada BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang bertugas mengawasi keamanan produk makanan yang beredar di masyarakat. Mereka rutin mengambil sampel dari pasar, minimarket, hingga warung kecil, lalu mengujinya di laboratorium. Selain BPOM, perusahaan makanan berskala besar juga wajib memiliki laboratorium sendiri sebelum produk mereka dijual. Tujuannya satu: memastikan makanan yang sampai ke tangan konsumen benar-benar aman.
Penelitian membuktikan bahwa pengawasan makanan yang ketat bisa menurunkan kasus keracunan pangan. Industri makanan yang rutin melakukan pengujian terbukti jauh lebih sedikit menimbulkan masalah kesehatan dibanding yang tidak melakukannya (Bhunia, 2018). Artinya, analisis pangan bukan sekadar formalitas. Ini adalah hal nyata yang menyelamatkan nyawa setiap harinya.
Angka di Kemasan Itu Bukan Hiasan
Pernahkah Anda membalik bungkus makanan dan melihat tabel kecil berisi angka kalori, lemak, gula, dan natrium? Banyak orang melewatkannya begitu saja. Padahal angka-angka itu adalah hasil kerja keras analisis pangan di laboratorium. Sebelum produk boleh dijual, produsen harus menguji kandungan gizinya secara ilmiah agar hasilnya bisa ditulis di label kemasan.
Informasi di label ini bisa jadi panduan penting bagi konsumen. Misalnya, orang penderita diabetes perlu tahu kadar gula minuman yang ia pilih, sementara penderita hipertensi perlu memperhatikan kandungan garamnya. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang rajin membaca label makanan cenderung memiliki pola makan lebih sehat dan terhindar dari penyakit kronis (Wartella et al., 2011). Label bukan sekadar hiasan, tetapi sebagai informasi yang melindungi kesehatan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan dari Rumah?
Tentu kita tidak bisa membawa makanan ke laboratorium setiap kali hendak makan. Namun ada kebiasaan kecil yang bisa kita terapkan. Cek nomor BPOM di kemasan sebelum membeli, dan cuci sayur serta buah dengan air mengalir untuk mengurangi sisa pestisida. Waspadai juga makanan yang terlalu awet di suhu ruang, karena bisa jadi tanda adanya bahan pengawet berlebihan.
Selain itu, baca label kemasan dan perhatikan kandungan gula serta garam, terutama jika ada anggota keluarga dengan riwayat penyakit tertentu. Jangan ragu melaporkan produk mencurigakan melalui aplikasi BPOM Mobile atau call center 1-500-533. Tindakan-tindakan kecil ini memberi dampak besar bagi keselamatan diri dan orang-orang di sekitar kita. Konsumen yang cerdas adalah bagian dari sistem pengawasan pangan yang lebih luas.
Makan Itu Hak, Keamanan Pangan Itu Kewajiban
Kita sering tidak memikirkan dari mana makanan berasal sebelum sampai ke piring kita. Dari kebun, ke pasar, ke dapur, lalu ke mulut — setiap tahap menyimpan potensi masalah yang tidak kasat mata. Di sinilah analisis pangan berperan: melalui berbagai pemeriksaan, kualitas dan keamanan makanan dapat diketahui sebelum dikonsumsi masyarakat. Dengan begitu, makanan yang beredar tidak hanya enak, tetapi juga aman.
Ada banyak orang yang bekerja keras dalam pengawasan makanan seperti para ahli, pengawas, dan peneliti agar makanan di piring Anda layak untuk dinikmati. Namun tanggung jawab itu tidak hanya ada di pundak mereka. Sebagai konsumen, kita juga punya peran: lebih teliti, lebih peduli, dan tidak mudah tergoda oleh makanan murah yang belum jelas asal-usulnya. Keamanan pangan adalah urusan bersama, dan dimulai dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.



