Indrajit Riziq Prayogo
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
indrajitprayogo14@gmail.com
Bagi sebagian besar masyarakat urban, memulai hari tanpa secangkir es kopi susu gula aren rasanya seperti ada yang kurang. Minuman perpaduan antara espresso, susu, dan manisnya gula aren ini telah menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus “bahan bakar” produktivitas harian. Menariknya, ke mana pun kita pergi baik membelinya di kedai kopi cabang Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya, hingga memesannya lewat aplikasi ojek online rasa manis, gurih, dan pahit yang mengalir di lidah cenderung selalu sama dan konsisten.
Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana industri kopi kekinian bisa menjaga konsistensi rasa tersebut? Padahal, bahan baku yang digunakan berasal dari alam. Biji kopi yang dipanen bisa berbeda tingkat kematangannya, begitu pula dengan nira aren yang diperas oleh petani di daerah bisa menghasilkan tingkat kemanisan yang berubah-ubah tergantung cuaca.
Di sinilah peran penting yang jarang disadari oleh masyarakat awam, teknologi analisis pangan. Di balik meja barista yang estetik, ada sains yang bekerja keras memastikan bahwa setiap mililiter cairan yang masuk ke dalam cup konsumen memenuhi standar kualitas yang ketat.
Dalam dunia teknologi pangan, salah satu pilar utamanya adalah analisis proksimat. Jangan dibayangkan sebagai rumus matematika yang rumit, analisis proksimat sejatinya adalah metode kimia untuk “membongkar” dan memetakan kandungan gizi makro dalam bahan makanan, seperti kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat.
Pada segelas es kopi susu, analisis proksimat bekerja di balik layar untuk menguji kualitas susu. Kandungan lemak dan protein pada susu harus diukur secara berkala. Lemaklah yang memberikan sensasi creamy dan gurih (mouthfeel) saat kopi diseruput. Jika kadar lemak susu di bawah standar, kopi akan terasa “cemplang” atau terlalu encer. Sebaliknya, jika terlalu tinggi, rasa asli kopi justru akan tenggelam.
Tantangan terbesar berikutnya ada pada sirup gula aren. Sebagai pemanis alami, karakteristik gula aren sangat dinamis. Untuk menyiasatinya, industri pangan menggunakan alat khusus bernama refraktometer untuk melakukan uji Brix (Total Padatan Terlarut). Lewat analisis ini, tim pengendali mutu (quality control) bisa mengukur dengan pasti berapa tingkat kerapatan gula dalam sirup. Jadi, tak ada lagi cerita sirup gula aren terlalu cair di hari Senin dan terlalu kental di hari Jumat. Semuanya terukur secara matematis.
Tak kalah penting, analisis kimia sederhana seperti pengukuran tingkat keasaman (pH) juga dilakukan pada ekstraksi kopi. Selain untuk menjaga konsistensi rasa pahit asam yang pas, kontrol pH ini penting untuk memastikan lambung konsumen awam tetap aman setelah meminumnya. Bahkan, sebelum biji kopi disangrai (roasting), kadar airnya harus dianalisis terlebih dahulu agar tidak memicu pertumbuhan jamur selama penyimpanan.
Melalui sentuhan analisis pangan, segelas es kopi susu gula aren berubah dari sekadar tren minuman musiman menjadi sebuah produk industri yang aman, bermutu, dan stabil. Konsistensi rasa yang kita nikmati setiap hari bukan sekadar keberuntungan atau keahlian barista semata, melainkan buah dari ketelitian sains pangan yang menjaga kualitasnya dari hulu hingga ke hilir.
Jadi, saat Anda menyeruput kopi favorit Anda esok pagi, ingatlah bahwa ada ilmu pengetahuan yang sedang bekerja memastikan kelezatannya tetap sama, setiap hari.


