logo-color

Publikasi
Artikel Populer

ASUPAN GIZI MENJADI POTRET KEMAMPUAN DAYA TAHAN TUBUH DAN CEPAT RESPON MURID SD DALAM BELAJAR

Sri Hastuti Anwa Hartini, S.Pd

Sri Hastuti Anwa Hartini, S.Pd

SDN Sawaran Kulon 02
srihartini051@guru.sd.belajar.id

Guru dan murid ibarat nasi jagung dan sayur kelor, segar dan menggugah selera untuk dimakan di cuaca yang terik dan panas. Guru adalah salah satu profesi yang mulia dan terhormat, sedangkan murid adalah urat nadi dari guru. Sejatinya guru saling bersinergi dengan murid merupakan keberlangsungan hidup di masa depan dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan secara terjadwal dan berkelanjutan serta berkesinambungan di lembaga pendidikan khususnya di sekolah dasar. Dalam hal ini buah dari proses belajar mengajar di kelas diharapkan dapat merubah nasib murid dengan adanya pendidikan untuk memiliki bekal keilmuan yang didapat dari belajar di kelas dan lingkungan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di masa datang agar dapat hidup sesuai standart yang normal di mata masyarakat.

Menjadi catatan penting bagi guru di awal masuk di dalam kelas adalah melihat keadaan murid kita dari wajah murid kita. Apakah wajah murid kita berseri-seri, tersenyum manis, ceria dengan celotehnya. Ataukah wajah murid kita yang nampak murung, sedih, tidak kelihatan senang atau bahkan tidak terlihat bahagia, wajah murid kita yang tertunduk sedih dengan sikap yang lesu, tidak percaya diri, cenderung pemalu, bahkan menunjukkan sikap yang rendah diri. Wajah yang terlihat ceria adalah potret dari gambaran diri dan perasaan yang sedang murid rasakan dan alami yaitu perasaan senang dan bahagia. Sedangkan wajah murid kita terlihat sedih, murung, dan cemberut merupakan potret diri dari gambaran perasaan yang tidak nyaman, terabaikan, tersisihkan, bahkan rasa ketidaksiapan dalam menerima keadaan dan situasi yang dialami.

Guru seyogyanya menanyakan kepada muridnya, apakah pagi ini sudah sarapan pagi atau belum, karena jika murid SD terlihat lesu, lemah dan terlihat tidak bugar besar kemungkinan berangkat sekolah belum sempat sarapan pagi atau tidak ada makanan yang masuk sebelum melakukan aktivitas rutin sehari-hari yaitu berangkat ke sekolah diperlukan makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut untuk memperoleh tenaga. Secara kasat mata akan terlihat dengan jelas murid SD (X) dengan asupan gizi makanan yang dimakan atau dikonsumsi secara rutin yang mengandung gizi yang lengkap, terpenuhinya 4 sehat 5 sempurna diantaranya mengandung karbohidrat (nasi putih atau nasi jagung, nasi merah, singkong, roti dan kentang), lauk pauk (ikan, telur, daging, ayam, tempe, dan tahu), sayur-sayuran (wortel, kacang panjang, kangkung, dan bayam), buah (pepaya, rambutan, nanas, mangga, pisang, jeruk, dan apel), serta susu (susu sapi atau susu kedelai).

Akan terlihat berbeda jika seorang murid SD (Y) mengkonsumsi makanan secara rutin dalam kurun waktu tertentu hanya makan nasi putih dengan lauk seadanya, misalnya nasi putih dengan kerupuk. Dilihat dari ketahanan tubuh murid SD dengan asupan gizi yang lengkap yang dikonsumsi setiap hari tentu memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan sehat. Berbeda 180° jika dibandingkan dengan murid SD yang hanya asupan gizi yang dikonsumsi tidak lengkap, hanya nasi dan kerupuk, sudah tentu akan terlihat lesu dan tidak bugar.

Anak di usia SD aktivitasnya di kelas dan di lingkungan SD adalah bermain dan belajar. Murid (X) akan melakukan aktivitas fisik yang beragam yaitu menggunakan fisik (tenaga) contoh bermain sepak bola, lari, badminton, mengikuti kegiatan pramuka, drumband, melakukan eksperimen atau percobaan dalam pelajaran IPA (membuktikan bahwa tumbuhan yang berdaun hijau juga bernafas). Murid (Y) akan cenderung diam, tidak banyak melakukan aktivitas karena asupan gizi yang masuk ke dalam perut tidak mencukupi untuk melakukan aktivitas bermain dan belajar yang memerlukan tenaga yang besar dan asupan gizi yang lengkap.

Murid (X) di kelas dengan tercukupinya gizi yang lengkap 4 sehat 5 sempurna mereka akan cepat respon dalam menerima pembelajaran karena perut mereka sudah terisi, sudah kenyang dan asupan gizi yang mencukupi. Murid (Y) akan cenderung lesu, lambat untuk merespon dan menangkap pelajaran dikarenakan rasa lapar dan tidak tercukupinya gizi yang diperoleh tubuh untuk melakukan aktivitas belajar berpikir.

Peran guru disituasi murid (X) dan murid (Y) di dalam kelas adalah berpedoman pada pemikiran dan filosofi Ki Hadjar Dewantar, sebagai pendidik kita harus memahami kodrat keadaan, kodrat alam, dan kodrat zaman. Di kodrat alam, kita sebagai pendidik tidak bisa merubah sikap alamiah yang telah menjadi dasar karakteristik peserta didik. Sebagai guru tidak bisa merubah latar belakang dan karakteristik peserta didik, akan tetapi situasi yang dihadapi dan dialami murid (Y) sebagai guru hati nurani kita tergerak, timbul rasa kemanusiaan dan tanggung jawab akan keadaan yang dialami murid (Y).

Di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 2 mengatakan “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Sudah syah dan jelas dapat dipertanggungjawabkan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk memperolah pendidikan dan pengajaran tanpa melihat latar belakang dan status ekonomi. Memperlakukan murid (X) dan murid (Y) harus sama akan tetapi sebagai guru kita memiliki 4 kompetensi guru dalam Undang-Undang Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 8 menyebutkan “Kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial”.  Dengan demikian guru mampu sebagai pemimpin pembelajaran dan sebagai catatan penting adalah bertindak sebagai orang tua di sekolah.

Menanyakan murid (Y) sudah sarapan pagi atau belum adalah keharusan, bentuk perhatian,kepedulian, dan kewajiban serta tanggungjawab kita sebagai guru kepada murid. Hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai guru membagikan makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Contoh murid (Y), di kelas sebelum jam pelajaran sekolah dimulai mengajarkan setiap masing-masing murid atau teman sebayanya untuk membawa bekal makanan dari rumah bagi murid yang mampu secara status dan ekonomi, sehingga murid yang kekurangan asupan gizi bisa terpenuhi asupan gizinya.  Guru mengajarkan senantiasa berbagi kepada murid (Y) yang belum tercukupi asupan gizinya. Guru dan murid sudah melatih kepekaan dan rasa kepedulian yan tinggi terhadap sesama murid.

Di kodrat zaman, di era digital abad 21. Budi pekerti yang luhur merupakan potret cerminan identitas ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan jawaban atas peran guru terhadap situasi mengenai asupan gizi murid (X) dan murid (Y).

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I