logo-color

Publikasi
Artikel Populer

PTM : SURGA YANG (SUDAH TAK) DIRINDUKAN

“Lebih enak gini aja, gak usah ke sekolah juga udah ketemu sama guru sama teman.“
“Belajar sambil rebahan bisa nyari bahan di internet.”
“Aduh, dah terlanjur belikan HP dan pasang wifi, mana belum lunas lagi. “
“Yang mau PTM suruh bikin surat pernyataan dari orang tua? Gak mau repot ah. ”
“Seragamku udah gak muat, dah beli lagi, eh kemarin gak jadi PTM juga kok. ”
Demikian sebagian keluhan bernada miring dari masyarakat tentang wacana mengenai diberlakukannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi daerah dengan kategori PPKM Level 1-3. Terlepas dari pro dan kontra di tengah masyarakat, kebijakan pemerintah daerah yang satu dengan yang lain memang berbeda dalam menyikapi PTM. Hal ini tentu bukan tanpa alasan.

Selain berdasarkan pada keputusan bersama (SKB) 4 menteri dan juga merujuk pada instruksi Menteri Dalam Negeri tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kesiapan institusi sekolah dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang menunjang dalam mencegah tersebarnya virus Covid-19 juga menjadi bahan pertimbangan.

Terbiasa dengan new normal

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari pemerintah yang dimulai sejak Maret 2020 dengan kebijakan untuk menerapkan kebiasaan baru seakan menjadi sebuah paksaan di masa itu, namun sekarang lambat laun sudah melekat dan menjadi sesuatu yang biasa dan normal adanya. Bahkan mungkin jika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah dicabut belum tentu kebiasaan masyarakat akan bisa kembali normal seperti sebelum terjadi pandemi.

Sebagaimana dikatakan oleh Ketua Asosiasi Psikiater Amerika, Joshua Morganstein bahwa cara beradaptasi seseorang akan membaik dengan seiring waktu dan akan menemukan cara untuk mengatasinya dan bergerak maju. Sedang menurut Elizabeth Kubler-Ross seorang psikiater Amerika Serikat bahwa tahapan psikologis dalam menerima keadaan ada lima tahapan, yaitu:
1. Penolakan terhadap situasi yang melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan atau ketakutan.
2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustasi, iritasi, dan kecemasan.
3. Tawar menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi.
4. Depresi
Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya atau terisolasi.
5. Penerimaan
Tahap ini seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan sehingga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaaan.

Demikian pula di bidang pendidikan, para peserta didik maupun pendidik dan tenaga kependidikan yang semula merasa resah dengan pembelajaran jarak jauh, kini seakan sudah terbiasa dengan penerapan pembelajaran dalam jaringan (daring/online) maupun luar jaringan (luring/offline).

Keunikan generasi digital

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2020 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270,2 juta jiwa. Populasi sebanyak itu didominasi oleh generasi Z yaitu yang lahir pada 1997–2012 dan generasi milenial yang lahir pada 1981–1996 dengan proporsi masing–masing 27,94 persen dan 25,87 persen. Generasi milenial dan generasi Z disebut sebagai generasi digital karena keduanya memiliki penguasaan yang tinggi terhadap informasi dan teknologi sekaligus menjadikan digitalisasi sebagai bagian hidup dan budaya sehari–hari.
Keunikan generasi digital yang mempunyai karakter dan sifat yang berbeda dari generasi sebelumnya, antara lain yaitu sangat menyukai dan ahli dalam mengoperasikan teknologi, bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu kesempatan (multitasking) menyukai pekerjaan di perusahaan Startup dan cerdas serta cepat dalam menerima informasi.

Oleh sebab itulah generasi digital lebih mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berbasisi digital yang seolah-olah lebih dipercepat karena datangnya gelombang pandemi Covid-19 yang melanda hampir di seluruh dunia ini.

Transformasi pendidikan di masa pandemi menuju era revolusi industri 4.0

Pandemi Covid-19 telah mengubah dunia pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai dengan pendidikan tinggi (PT). Selain berdampak buruk, pandemi Covid-19 ternyata juga berdampak baik pada dunia pendidikan.

Dengan diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sering disebut dengan pembelajaran daring (online) mau tidak mau telah memaksa institusi pendidikan, guru, siswa bahkan orang tua untuk melek teknologi. Hal ini sangat mempercepat transformasi teknologi pendidikan, yang berdampak positif karena pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan sejalan dengan era revolusi industri 4.0 yang terus berkembang.

Selain itu, seiring dengan berjalannya waktu mulai bermunculan dan berkembang dengan pesatnya aplikasi pembelajaran online yang sangat membantu dan memudahkan dalam pembelajaran yaitu antara lain Zoom, Microsoft Teams, Google Meet dan masih banyak yang lainnya. Peserta didik, guru, orang tua sudah sangat akrab dengan aplikasi yang memudahkan untuk bertatap muka secara virtual tersebut dan dapat mengoperasikan dengan sangat mudahnya. Selain itu, juga berkembang pula berbagai fasilitas kursus, webinar, seminar dengan biaya yang sangat murah bahkan tidak sedikit yang tidak berbayar alias gratis.

Ditambah lagi dengan bantuan pulsa dari pemerintah untuk peserta didik serta berlomba–lombanya berbagai provider untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat pengguna internet, hal ini menjadikan mereka yang semuala mengeluh dengan PJJ ataupun BDR berubah menjadi merasa nyaman dengan kondisi sekarang.
Tanpa beranjak dari kamar peserta didik bisa mengikuti pembelajaran, tanpa mengeluarkan motor para pendidik tetap bisa menyapa dan menyampaikan pelajaran kepada para anak didiknya.

Kebijakan yang tarik ulur, bagai buah simalakama

Jika Kebijakan kepala daerah terkait PTM tidak segera dipertegas kapan akan segera diberlakukan maka tidak menutup kemungkinan para peserta didik, guru dan orang tua yang sudah merasa nyaman dengan PJJ ini maka mereka sudah tidak akan mengharapkan adanya PTM lagi. PJJ sudah menjadikan anak di bawah umur yang memang generasi digital yang mudah beradaptasi dengan teknologi ini, mulai akrab dan seakan tak mau dipisahkan dengan gadget mereka.

Dan jika keakraban para peserta didik dengan aplikasi dan fitur–fitur yang memudahkan mereka mengakses apa yang mereka butuhkan dan sukai tidak dibarengi dengan literasi digital yang sehat dan bermakna maka sebenarnya akan muncul pula dampak negatif dari teknologi yaitu antara lain konsentrasi mereka pada pelajaran menurun, lebih banyak untuk bermain game daripada untuk belajar atau mencari sumber belajar, ketergantungan yang tinggi terhadap gadget bahkan bisa jadi sampai tingkat kecanduan gadget.

Siti Muslimah

Siti Muslimah

Kepala TK Islam Mutiara Hati IV
stmuslimah409@gmail.com

Tags

Share this post:

Postingan Lain

One Response

  1. Pandemi covid-19 yang berujung pada situasi darurat bencana nasional (PSBB & PPKM) hanya berlaku di masyarakat perkotaan saja kayaknya.
    Di pedesaan seperti kami, kehidupan sehari-hari masih seperti biasa saja bahkan sekolah pun masih berjalan seperti biasnya, walaupun ada kebijakan sekolah secara daring dan luring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I