logo-color

Publikasi
Artikel Populer

DI BALIK JAJANAN VIRAL: SEBERAPA AMAN PANGAN YANG KITA KONSUMSI?

Zukhrufatun Nabila

Zukhrufatun Nabila

Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
zukhrufatunabila@gmail.com

Photo by detik.food.com

Media sosial telah mengubah cara masyarakat memilih dan mengonsumsi makanan. Saat ini, sebuah produk pangan dapat menjadi viral hanya dalam hitungan jam karena tampilannya yang menarik, ulasan influencer, atau tren yang berkembang di berbagai platform digital. Fenomena tersebut membuat banyak orang tertarik mencoba makanan yang sedang populer tanpa mempertimbangkan aspek keamanan pangan. Padahal, keamanan pangan merupakan faktor penting yang menentukan apakah suatu makanan layak dan aman untuk dikonsumsi.

Di Indonesia, tren jajanan viral terus bermunculan setiap tahun. Mulai dari makanan pedas ekstrem, minuman berwarna mencolok, hingga berbagai produk impor yang ramai diperbincangkan di media sosial. Popularitas suatu produk sering kali membuat konsumen berasumsi bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi. Sayangnya, tidak semua produk yang viral telah memenuhi standar keamanan pangan yang baik. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran yang lebih tinggi dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.

 

Viral Belum Tentu Aman

Kasus keamanan pangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan keamanan produk. Salah satu kasus yang sempat menjadi perhatian nasional adalah jajanan impor asal Tiongkok bernama La Tiao yang viral di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia. Pada November 2024, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan penarikan produk tersebut setelah hasil uji laboratorium menemukan kontaminasi bakteri Bacillus cereus yang dapat menyebabkan keracunan pangan. Produk tersebut diduga menjadi penyebab Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLBKP) di beberapa wilayah Indonesia, seperti Lampung, Sukabumi, Wonosobo, Tangerang Selatan, Bandung Barat, Pamekasan, dan Riau. Gejala yang dilaporkan meliputi sakit perut, pusing, mual, dan muntah.

Kasus La Tiao menunjukkan bahwa makanan yang sedang viral belum tentu aman untuk dikonsumsi. Banyak konsumen membeli produk hanya karena populer di media sosial tanpa memperhatikan izin edar, komposisi bahan, maupun informasi keamanan lainnya. Padahal, keamanan pangan seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum mengonsumsi suatu produk. Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi keamanan pangan di tengah perkembangan tren kuliner digital yang sangat cepat.

Persoalan keamanan pangan juga masih ditemukan dalam pengawasan rutin yang dilakukan BPOM. Pada pengawasan Ramadan dan Idulfitri tahun 2026, BPOM mengawasi 1.350 pedagang takjil di 298 lokasi di seluruh Indonesia. Dari 2.888 sampel makanan yang diuji menggunakan rapid test kit, ditemukan 48 sampel atau sekitar 1,66 persen yang positif mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan Rhodamin B. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pangan yang tidak memenuhi standar keamanan masih beredar di masyarakat dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen.

BPOM juga menemukan bahwa formalin masih ditemukan pada mi kuning basah dan tahu di beberapa wilayah, sedangkan Rhodamin B ditemukan pada sirup, es cendol, dan kerupuk. Meskipun jumlah temuan tidak terlalu besar dibandingkan keseluruhan sampel, kasus tersebut tetap menjadi peringatan bahwa keamanan pangan tidak boleh dianggap sepele. Masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam memilih makanan, terutama produk yang sedang populer dan banyak dipromosikan melalui media sosial.

 

Pentingnya Analisis Pangan

Di balik setiap makanan yang beredar di masyarakat, terdapat proses pengujian yang bertujuan memastikan kualitas dan keamanannya. Proses tersebut dikenal sebagai analisis pangan. Melalui analisis pangan, berbagai aspek dapat diperiksa, mulai dari kandungan gizi, keberadaan mikroorganisme berbahaya, hingga kemungkinan adanya zat kimia yang tidak seharusnya terdapat dalam produk pangan. Hasil pengujian ini menjadi dasar dalam menentukan apakah suatu produk layak untuk dikonsumsi.

Bagi industri pangan, analisis pangan merupakan bagian penting dalam menjaga mutu produk dan kepercayaan konsumen. Produk yang telah melalui pengujian yang baik memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi standar keamanan yang ditetapkan pemerintah. Sebaliknya, produk yang tidak melalui proses pengawasan yang memadai dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, analisis pangan menjadi salah satu pilar utama dalam sistem keamanan pangan modern.

Analisis pangan juga memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dapat memanfaatkan informasi pada label pangan untuk membuat keputusan yang lebih bijak saat membeli makanan. Kesadaran terhadap keamanan pangan akan membantu konsumen memilih produk yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Dengan demikian, kesehatan masyarakat dapat lebih terjaga.

 

Meningkatkan Literasi Keamanan Pangan

Perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi mengenai makanan dan minuman. Namun, kemudahan tersebut juga mempercepat penyebaran tren konsumsi yang belum tentu disertai edukasi mengenai keamanan pangan. Oleh karena itu, peningkatan literasi keamanan pangan menjadi sangat penting, terutama bagi generasi muda yang merupakan pengguna aktif media sosial. Kemampuan untuk memilah informasi dan memahami aspek keamanan pangan menjadi keterampilan yang perlu dimiliki setiap konsumen.

Pendidikan mengenai keamanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pelaku industri, tetapi juga lembaga pendidikan dan masyarakat. Dengan pemahaman yang baik, konsumen akan lebih kritis dalam memilih produk pangan dan tidak mudah terpengaruh oleh popularitas semata. Sikap kritis ini dapat membantu menciptakan budaya konsumsi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, makanan yang baik bukan hanya makanan yang viral dan menarik perhatian, tetapi juga makanan yang aman dan bermanfaat bagi kesehatan. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk memeriksa informasi produk sebelum membeli dan mengonsumsi makanan yang sedang tren. Dengan demikian, keamanan pangan dapat menjadi prioritas bersama di tengah pesatnya perkembangan dunia kuliner digital.

Fenomena jajanan viral menunjukkan bahwa popularitas suatu produk tidak selalu menjamin keamanannya. Kasus keracunan La Tiao serta temuan BPOM tahun 2026 membuktikan bahwa pangan yang tidak memenuhi syarat keamanan masih ditemukan di masyarakat. Melalui analisis pangan, pengawasan yang berkelanjutan, dan peningkatan literasi keamanan pangan, masyarakat dapat menjadi lebih bijak dalam memilih makanan. Dengan begitu, tren kuliner yang berkembang di era digital dapat dinikmati tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan konsumen.

 

SUMBER:

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026, 11 Maret). BPOM temukan 56 ribu produk pangan tidak memenuhi ketentuan selama Ramadan dan jelang Idulfitri 2026. Siaran Pers.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026, 6 Maret). BPOM temukan ribuan pangan ilegal dan berbahaya jelang Ramadan 2026, nilai ekonomi capai ratusan juta rupiah. Berita.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2024, 2 November). BPOM perintahkan tarik latiao tercemar bakteri penyebab keracunan. Berita.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2024, 1 November). Penjelasan publik nomor HM.01.1.2.11.24.92 tanggal 1 November 2024 tentang kejadian luar biasa keracunan pangan yang diduga disebabkan oleh pangan olahan latiao. Penjelasan Publik.

 

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I