Humaira Labibah
Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
humairalabibah15@gmail.com
Siapa yang tidak mengenal produk seperti nugget, sosis, dimsum, atau bakso beku yang hanya perlu digoreng atau dikukus beberapa menit? Frozen food atau frozen food telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak keluarga di Indonesia, khususnya saat aktivitas sehari-hari sangat padat. Cukup simpan di dalam freezer, dan makan malam dapat disajikan dalam waktu singkat. Mudah, terjangkau, dan anak-anak pun menyukainya. Namun, pernahkah kita mempertanyakan apakah makanan yang tampak lezat tersebut benar-benar aman dan berkualitas?
Apa Sebenarnya Frozen Food Itu?
Frozen food adalah jenis makanan yang telah diproses dan kemudian dibekukan pada suhu sangat rendah untuk memperpanjang masa simpannya. Metode pembekuan ini merupakan salah satu cara pengawetan makanan yang paling kuno dan paling aman, karena suhu dingin dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur (Wicaksana et al., 2023). Namun, tidak semua frozen food yang ada di pasaran dapat dianggap aman atau bergizi secara otomatis. Di sinilah pentingnya melakukan analisis pangan.
Analisis Pangan: Si “Detektif” di Balik Layar
Analisis pangan adalah serangkaian tes ilmiah yang dilakukan untuk memastikan bahwa suatu produk makanan memenuhi kriteria keamanan, kualitas, dan nilai gizi. Bayangkan analisis pangan sebagai seorang detektif yang menyelidiki setiap rincian dan aspek dari produk makanan. Para ahli teknologi pangan akan memeriksa kandungan seperti protein, lemak, karbohidrat, dan kadar air dalam produk tersebut. Mereka juga akan mengecek adanya bahan tambahan berbahaya, bakteri patogen, atau kontaminasi logam berat yang dapat membahayakan kesehatan konsumen.
Dalam sektor frozen food, analisis paangan dilakukan di berbagai tahap dari pemilihan bahan baku, proses pembuatan, sampai produk akhir yang siap didistribusikan kepada konsumen. Contohnya, nugget ayam yang kita beli di supermarket sudah melalui pengujian kandungan daging ayam asli, jumlah tepung, serta memastikan tidak ada residu antibiotik dari hewan ternak. Pengujian tersebut dilaksanakan untuk memastikan bahwa produk yang dibuat aman dan sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. anaslisis pangan menjadi aspek penting dalam memberikan jaminan keamanan dan kelayakan konsumsi bagi masyarakat.
Fakta Mengenai Frozen Food
Pertama, tidak semua frozen food memiliki kualitas yang sama. Ada produk yang terbuat dari bahan segar berkualitas tinggi dengan standar produksi yang ketat, tetapi ada pula yang menggunakan bahan-bahan murah yang banyak mengandung zat tambahan seperti tepung berlebih, perisa buatan, dan pengawet. Analisis pangan membantu kita membedakan jenis-jenis ini. Informasi gizi yang tercantum pada label kemasan adalah hasil dari analisis tersebut dan mempelajarinya bisa menjadi langkah bijak sebelum melakukan pembelian.
Kedua, suhu penyimpanan berperan penting dalam menjaga keamanan frozen food. Sering kali orang tidak menyadari bahwa membekukan kembali makanan yang sudah dicairkan (thawed) bisa meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri berbahaya. Penelitian mikrobiologi menunjukkan bahwa bakteri seperti Salmonella dan Listeria dapat berkembang dengan cepat jika rantai dingin (cold chain) berhenti (Rahayu et al., 2025). Maka dari itu, sangat penting untuk memastikan bahwa freezer di rumah berfungsi pada suhu -18°C atau lebih rendah (Magdovitz et al., 2020).
Ketiga, label halal dan izin BPOM pada frozen food bukan sekadar tempelan, melainkan merupakan indikator bahwa produk tersebut telah melalui serangkaian uji coba untuk memastikan keamanan dan kualitasnya. Konsumen sangat penting untuk terbiasa memeriksa angka registrasi BPOM yang ada di kemasan sebelum melakukan pembelian. Makanan beku tidaklah berbahaya bagi kesehatan, namun aspek keamanannya tetap harus mendapat perhatian dari produsen, pemerintah, dan konsumen. Analisis pangan memiliki peran krusial dalam menjamin bahwa semua produk yang dijual aman dan layak untuk dikonsumsi. Sebagai konsumen yang cerdas, kita bisa mulai dengan memeriksa label, mengecek nomor BPOM, dan menyimpan makanan sesuai dengan petunjuk yang tertera.
Daftar Pustaka
Rahayu, E. P., Hastuti, T., dan Firdausi, A. 2025. Validasi Metode Deteksi Listeria monocytogenes Pada Naget Ayam Secara Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Jurnal Sains dan Teknologi Pangan. Vol. 10(5): 8803-8815.
Wicaksana, W. R., Paramastri, B., dan Ardyanfitri, H. 2021. Purchase Intention Produk Frozen Food Berdasarkan Perceived Quality Dan Price Fairness. Jurnal Manajemen dan Inovasi (MANOVA). Vol. 4(1): 1-12.
Magdovitz, B. F., Gummalla, S., Thippareddi, H., dan Harrison, M. A. 2020. Evaluating Environmental Monitoring Protocols For Listeria Spp. and Listeria monocytogenes in Frozen Food Manufacturing Facilities. Journal of Food Protection. Vol. 83(1): 172-187.



