logo-color

Publikasi
Artikel Populer

BAHASA KRAMA TONGGAK UNGGAH-UNGGUH PUTRA-PUTRI BANGSA

Alfiyah

Alfiyah

Guru MI TARBIYATUL BANIN

Pendidikan karakter adalah salah satu usaha/proses untuk membentuk/mengenali kepribadian seseorang, menumbuhkan moralitas yang baik yang outputnya berupa pola pikir dan sikap yang sesuai dengan kondisi individu dan masyarakat yang terlibat dengan individu tersebut. Sementara dikutip dari Depdiknas (2010) disebutkan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik. Pengertian tersebut menekankan pada pengaruh yang diberikan guru terhadap murid. Memengaruhi murid ini dapat dilakukan sebagai usaha untuk membentuk murid memiliki karakter (nilai-nilai yang positif).

Pendidikan memiliki tujuan nasional pendidikan yaitu untuk menciptakan manusia yang seutuhnya (berkarakter) seperti dijelaskan pada UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sekarang mulai banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang mengajarkan pendidikan karakter menjadi mata pelajaran khusus di sekolah tersebut. Mereka diajarkan bagaimana cara bersifat terhadap orang tua, guru-guru ataupun lingkungan masyarakat. Beberapa sekolah bahkan menambahkan pendidikan life skills dalam kurikulumnya. Sehingga siswa usia Sekolah Dasar sudah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalani kehidupan sehari-hari sedikit demi sedikit.

Usaha penanaman karakter dapat dilaksanakan dengan optimal secara berkala walaupun dalam prosesnya pasti ditemukan beberapa kendala yang muncul. Ada 1 program yang sangat menunjang suksesnya pendidikan karakter ini yaitu pembiasaan berbahasa krama yang dimulai dari kelas 1-6 di madrasah tempat penulis mengajar yakni MI Tarbiyatul Banin Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Jawa tengah. Salah satu usahanya adalah dengan membagikan gambar berisi kata-kata bahasa ngoko dan kromonya kepada wali murid dan kami juga wajibkan kepada siswa untuk hafal karena kata-kata tersebut adalah kosakata sehari-hari. Biasanya di awal pembelajaran saya akan cek bersama apakah siswa betul-betul menghapalkan kosakata tersebut atau tidak. Kebetulan karena madrasah kami berada di pedesaan daerah Jawa tengah, rerata kami menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Walaupun demikian, banyak siswa yang masih awam dan bingung dengan bahasa daerah mereka sendiri. Apalagi tatanan berbahasa krama yang ditujukan untuk orang yang lebih tua. Siswa lebih senang menggunakan bahasa Indonesia yang familiar. Mengikisnya jumlah siswa yang dapat berbahasa krama dengan baik membuat kami menciptakan trobosan tersebut. Ketika di madrasah, siswa wajib berbahasa krama kepada para guru walaupun masih diselingi bahasa Indonesia. Hal ini tentu saja tidak bisa kita lihat secara instan namun membutuhkan proses yang tidak sebentar. Kami bahkan membuat jadwal Hari Berbahasa Jawa setiap Jumat agar siswa lebih bersungguh-sungguh dalam mempelajari bahasa ibu mereka. Kegiatan ini juga lumayan menginspirasi beberapa sekolah/madrasah di daerah kami dan beberapa juga meminta kami untuk membagikan gambar kosakata yang sekolah kami buat.

Faktor yang mendukung kelancaran program pembentukan karakter melalui kegiatan berbahasa krama adalah adanya kedisiplinan dari kami para pendidik untuk senantiasa melaksanakan program madrasah dan banyaknya ide-ide yang muncul guna mendorong terwujudnya pembentukan karakter disiplin dan unggah-ungguh yang baik. Adanya kerjasama yang kompak antara guru dan orangtua juga merupakan faktor penentu keberhasilan program ini dimana di madrasah siswa diajarkan dan diberikan contoh yang baik dan di rumah orang tua membantu memastikan siswa menerapkan apa yang dia dapatkan dari madrasah. Hal yang menghambat program ini adalah dari siswa itu sendiri. Latar belakang setiap siswa berbeda dan mereka juga diajarkan/melihat hal yang berbeda tergantung keluarganya. Terkadang ada juga orang tua yang agak acuh dengan pendidikan anaknya sehingga apa yang guru sampaikan menjadi sebatas lewat saja. Seperti saat kami membagikan gambar kosakata bahasa krama di grup wali murid, akan terlihat pagi harinya siapa saja siswa yang memang diajari untuk menghapal dan menerapkan kosakata tersebut dan yang tidak. Beberapa siswa yang terlihat tidak hapal biasanya beralasan karena memang orangtuanya tidak memberitahu tentang kosakata yang harus dihapalkan hari itu. Dan ini salah satu penghambat yang agak sulit untuk diatasi, karena sosialisasi dan pemberitahuan selalu kami sampaikan secara gamblang kepada wali murid. Dengan adanya kemajuan zaman di era digital ini, kita sebagai pendidik harus memutar otak dan beradaptasi memunculkan ide-ide baru menyesuaikan perkembangan peserta didik dan kami berharap usaha yang kami lakukan sekarang dapat membawa dampak baik bagi siswa, orang tua, dan madrasah.

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I