logo-color

Publikasi
Artikel Populer

ASYIKNYA PAHAMI SIKAP OPTIMIS, IKHTIAR DAN TAWAKAL MELALUI PBL

Siti Alfiyah, S.Ag., M.Pd.

Siti Alfiyah, S.Ag., M.Pd.

Guru PAI-BP SMPN 3 Comal Pemalang

Materi optimis, ikhtiar dan tawakal sebagai implementasi dari Qs. Az-Zumar/39: 53, Qs.An-Najm/53: 39-42 dan Qs. Ali Imran/3: 159 sangat penting dikuasai oleh peserta didik. Mengingat materi PAI ini merupakan salah satu ruang lingkup Pendidikan Agama Islam dari aspek Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim. Sehingga dalam mengajarkan materi ini seorang pendidik agar memberikan pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik. Sehingga setelah belajar usai, diharapkan terjadi perubahan yang signifikan bagi peserta didik baik dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Problem Base Learning (PBL) adalah metode pembelajaran dengan mengangkat permasalahan dari kehidupan nyata. Dengan menggunakan metode PBL, peserta didik diharapkan mampu menghubungkan dengan menyelesaikan masalah yang dihadapinya di kehidupan sehari-hari.  Apalagi sikap optimis, ikhtiar dan tawakal sebagai tahapan peserta didik menyelesaikan segala permasalahannya sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, pembelajaran bermakna perlu diberikan kepada peserta didik dalam membahas materi tersebut. Sebagaimana Ausubel (1963) merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam sturktur kognitif. Sedangkan struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

 Dengan demikian pembelajaran bermakna melalui metode Problem Base Learning dalam kompetensi dasar memahami ayat Qs. Az-Zumar/39: 53, Qs.An-Najm/53: 39-42 dan Qs. Ali Imran/3: 159  adalah sangat tepat. Adapun kompetensi dasar memahami Qs. Az-Zumar/39: 53, Qs.An-Najm/53: 39-42 dan Qs. Ali Imran/3: 159 terdiri dari tiga indikator. Yakni mampu menerjemahkan Qs. Az-Zumar/39: 53, Qs.An-Najm/53: 39-42 dan Qs. Ali Imran/3: 159, mampu menjelaskan kesimpulan makna  Qs. Az-Zumar/39: 53, Qs.An-Najm/53: 39-42 dan Qs. Ali Imran/3: 159, dan mampu menerjemahkan hadist terkait. Dari ketiga indikator tersebut, mampu menjelaskan kesimpulan maknalah yang menjadi fokus pembelajaran dalam materi ini.

Adapun tahapan-tahapan dari metode Problem Base Learning menurut Trianto adalah sebagai berikut: (1). Fase pertama: Menjelaskan tujuan pembelajaran. Guru memerintahkan menyiapkan catatan yang diperlukan, guru memotivasi peserta didik agar mengerjakan masalah dengan sebaik-baiknya, karena dalam kehidupan sehari akan mengalami permasalahan optimis, ikhtiyar dan tawakal. (2). Fase kedua: Mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru mengarahkan siswa untuk menguasai konsep optimis, ihktiyar dan tawakal. Yang meliputi pengertian, dalil, contoh sikap dan manfaat sikap optimis, ikhtiar dan tawakal. Fase inilah guru memberikan contoh dengan mengangkat permasalahan dari kehidupan sehari-hari. Misalnya contoh soal: Minggu depan siswa IX E akan menghadapi penilaian harian mata pelajaran PAI-BP. Terapkan sikap optimis, ikhtiar dan tawakal kalian! (Jawabannya: Optimis: Siswa kls IX E yakin mampu mengerjakan penilaian PAI-BP dengan maksimal, hingga mencapai KKM. Ikhtiar: Siswa kelas IX E berusaha dengan belajar sungguh-sungguh dan berdoa dalam menghadapi ulangan PAI-BP. Tawakal: Siswa IXE memasrahkan diri kepada Allah SWT. apa pun hasilnya akan diterima dengan senang hati). (3) Fase ketiga: membimbing pengalaman individual. Dalam fase inilah guru memberikan contoh permasalahan yang dialami peserta didik baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan tujuan agar pemahaman anak pada konsep optimis, ikhtiar dan tawakal akan terjalin korelasinya saat menghadapi permasalahan nyata. (4) Fase yang keempat: mengembangkan dan menyajikan hasil belajar. Untuk tahap ini bisa dengan mengerjakan soal uraian, sehingga peserta menyajikan hasil belajarnya dengan menjawab pertanyaan tersebut. (5) Fase kelima : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru bisa memberikan evaluasi secara individual saat peserta didik belum mampu menerapkan sikap optimis, ikhtiyar dan tawakal pada soal yang di anggkat dari permasalahan kehidupan nyata.

Berdasarkan pengalaman penulis, peserta didik membutuhkan pemahaman konsep optimis, ikhtiar dan tawakal yang baik. Berikut disampaikan juga contoh kalimat-kalimat masing-masing sikap optimis, ikhtiyar dan tawakal. Agar peserta didik bisa menerapkan perilaku optimis, ikhtiyar dan tawakal apa pun masalahnya dengan benar. Dengan demikian pembelajaran bermakna melalui PBL dalam materi optimis, ikhtiar dan tawakal sebagai implementasi dari Qs. Az-Zumar/39: 53, Qs.An-Najm/53:39-42 dan Qs. Ali Imran/3: 159 bisa tercapai.

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I