Sulasmi, S.Pd.
SDN 9 Sungai kakap Kabupaten Kubu Raya
sulasmi811@guru.sd.belajar.id
Masa pengenalan lingkungan sekolah dirancang inklusif dan ramah anak, agar siswa baru mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, guru, dan teman serta menumbuhkan motivasi belajar melalui metode yang menyenangkan, edukatif dan ramah anak. Penguatan nilai-nilai budaya lokal merupakan langkah strategis untuk membentuk Dimensi Profil Lulusan, intregrasi ini membekali siswa dengan identitas, karakter, moral dan rasa bangga terhadap warisan daerah tanpa tertinggal oleh kemajuan teknologi. Nilai-nilai kearifan lokal sangat efektif di masukkan ke dalam konsep MPLS dengan tujuan siswa mampu mengenal nilai-nilai budaya setempat, menerapkan dan menjadikan pembiasaan berperilaku positif sejak dini.
Siswa perlu mengetahui nilai-nilai budaya lokal di Kubu Raya antara lain: gotong royong/kerjasama dan tolong menolong, toleransi dalam keberagaman untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan, nilai pelestarian budaya/tradisi mengenalkan tradisi turun temurun seperti Robo Robo’ pawai pakaian daerah, berpantun. Nilai keagamaan melalui membaca doa bersama, nilai etika sopan santun dengan kebiasaan kata “tolong, maaf, terima kasih”, mendengar tanpa memotong pembicaraan, dan berinteraksi sosial.
Terdapat beberapa tantangan antara lain beberapa siswa baru kesulitan adaptasi secara psikologis, adanya kecemasan perpisahan dengan orang tua, mogok masuk kelas, penurunan kepercayaan diri anak jadi pendiam, kecemasan akademik karena tuntutan konsentrasi belajar, hambatan sosialisasi siswa masih memilih dalam berteman, dan metode pembelajaran kurang bervariasi.
Tantangan tersebut menjadi motivasi seluruh warga Sedasri 9 dan orang tua siswa untuk berkolaborasi menciptakan lingkungan kondusif melalui berbagai kegiatan yang bermuara pada penguatan nilai-nilai budaya lokal antara lain: (1) Aksi gotong royong membersihkan kelas dan area sekolah guna memupuk kebersamaan, tolong menolong dan kolaborasi. (2) Kegiatan literasi melalui pengenalan bahasa dengan “sesi sapa” mengenalkan kata “tolong, maaf, terima kasih” untuk menanamkan etika sopan santun dalam berkomunikasi, kegiatan numerasi menghitung jumlah teman di kelas. (3) Kegiatan wiyata mandala dengan mengenalkan lingkungan sekolah, sarana prasarana dan fungsinya, peran warga sekolah, dan budaya tertib. (4) Kampanye anti perundungan yang memberikan informasi/edukasi guna meningkatkan kesadaran rasa empati saling menghargai, menciptakan lingkungan yang inklusif nyaman dan aman serta sebagai tindakan preventif bullying. (5) Membangun kekompakan melalui upacara bendera hari jadi Kubu Raya yang ke-19 berkolaborasi dengan perangkat desa, sebagai pembina upacara Bapak Rasikin Kepala Desa Parit Keladi. Makna kegiatan sebagai penguatan nilai sejarah lokal Kubu Raya, cinta tanah air, membangun disiplin dan persaudaraan, tanggung jawab, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan. (6) Asesmen awal pengenalan numerasi literasi melalui game edukasi.

Gambar: Kegiatan aksi gotong royong, upacara hari jadi Kubu Raya, pawai baju daerah
Sumber: Dokumen Pribadi
Kegiatan MPLS terlaksana dengan respon positif seluruh warga sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sekitar, sebagai tindakan nyata penguatan nilai-nilai budaya lokal untuk membentuk perilaku positif sejak dini. Kegiatan MPLS ditutup dengan pawai jalan santai menggunakan baju daerah untuk mengenal keberagaman suku, mengenal filosofi corak/motif baju daerah yang beragam sebagai kearifan lokal, mengapresiasi suatu karya dan melatih rasa percaya diri, sopan santun dalam berpakaian. Kegiatan kontekstual dan menggembirakan sehingga siswa memiliki pengalaman yang bermakna. Dalam keterampilan numerasi mengenal konsep geometri, lingkaran, segitiga pada motif baju, menghitung waktu /rute jalan santai. Contoh keterampilan literasi siswa menyebutkan asal usul pakaian daerah, seperti baju kebaya dari Jawa, baju kurung melayu, membaca motif seperti gelombang muare dan layar meretas.




