logo-color

Publikasi
Artikel Populer

METAKOGNISI: KUNCI SUKSES BELAJAR YANG TERABAIKAN

NASRIANTY, S.Pd., M.Pd.

NASRIANTY, S.Pd., M.Pd.

Dosen Universitas Patompo
nasriantyr@ymail.com

Pernahkah anda sudah merasa belajar dengan keras, gigih tetapi hasilnya tidak memuaskan?

Banyak siswa atau mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, membaca buku, menghafal materi, atau mengerjakan soal-soal tetapi nilainya tidak sesuai dengan harapan. Ada juga siswa yang belajar tidak membutuhkan waktu lama, santai tetapi nilainya memuaskan. Apa sebenarnya yang menentukan keberhasilan dalam belajar? Apakah keberhasilan belajar bukan disebabkan oleh lama dan durasi waktu belajar? Lantas faktor apa yang mendukung keberhasilan dalam belajar?

Masalah kesulitan dan kegagalan dalam belajar seringkali bukan disebabkan karena kurang waktu dalam belajar ataupun karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena belum mengetahui bagaimana cara belajar yang efektif. Siswa tidak menggunakan strategi tepat yang mendukung proses belajar mereka. Siswa belajar hanya fokus mengejar nilai atau kelulusan ujian. Proses pemahaman seringkali diabaikan dan lebih memilih jalur menghafal materi, sehingga materi akan cepat terlupakan. Siswa tidak memeriksa sejauh mana pemahaman mereka dan hanya tergantung pada informasi yang diberikan oleh guru tanpa ada inisiatif untuk mencari strategi belajar secara mandiri. Kurikulum sekolah pun sering kali fokus pada isi materi, apa yang harus dipelajari dan jarang mengajarkan bagaimana cara belajar. Nah, disinilah letak pentingnya metakognisi. Apa sih peran pentingnya metakognisi dalam belajar? Siswa yang belajar dengan menggunakan metakognisi mampu merencanakan, mengatur dan mengevaluasi proses belajarnya, sehingga siswa dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam diri mereka sendiri. Mereka bisa mengontrol cara mereka berpikir, mengatur strategi yang lebih mudah untuk memahami materi yang mereka pelajari, bukan hanya sekedar belajar membaca buku, menghafal tetapi lebih terstruktur dalam berpikir, bagaimana mengatur proses berpikir mereka. Sehingga dengan ini siswa dapat mengatasi kelemahan dan kekurangan diri mereka dalam proses belajar. Tetapi sayangnya, metakognisi ini masih jarang diajarkan secara sadar di sekolah maupun di perguruan tinggi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa metakognisi merupakan salah satu faktor penting yang membedakan pembelajar biasa dengan pembelajar yang berhasil. Berdasarkan hasil riset penelitian metakognisi di Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan metakognitif siswa secara umum masih beragam berada pada kategori sedang hingga rendah dan cenderung belum berkembang secara optimal. Oleh karena itu sangat penting untuk mengenalkan dan mengajarkan metakognisi kepada siswa.

Apa sih sebenarnya Metakognisi itu?

Metakognisi dan kognisi merupakan dua kata yang hampir mirip tetapi memiliki makna yang berbeda. Kognisi adalah proses mental untuk mengolah informasi, seperti mengingat, berpikir, dan memahami sesuatu, sedangkan metakognisi adalah kesadaran dan kontol atas proses kognisi tersebut. Kognisi itu melakukan tugas berpikir, sedangkan metakognisi itu kemampuan untuk menyadari, memahami dan mengontrol proses berpikir diri sendiri.

Metakognisi pertama kali diperkenalkan oleh John H. Flavell pada tahun 1976. Menurutnya metakognisi adalah berpikir tentang berpikir. Apa itu berpikir tentang berpikir? Kedengarannya agak membingungkan yah? Jadi, metakognisi itu adalah pengetahuan seseorang tentang proses kognitifnya sendiri. Kemampuan seseorang untuk memikirkan cara berpikirnya sendiri.

Secara sederhana, metakognisi merupakan kemampuan seseorang untuk mengontrol cara berpikirnya. Kemampuan menyadari, memahami, mengendalikan dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri. Jadi siswa yang memiliki metakognisi tidak hanya belajar membaca,menghafal dan memahami saja, tetapi juga berpikir bagaimana caranya agar pelajaran yang saya pelajari ini mudah saya ingat dan pahami. Strategi apa yang harus saya lakukan agar lebih mudah saya ingat dan pahami. Saya lebih mudah memahami materi dengan membaca, melihat gambar atau video, saya susah memahami pelajaran hanya dengan mendengarkan saja penjelasan guru. Jadi, siswa dalam proses belajarnya mengatur dan mengontrol cara mereka berpikir. Siswa yang menggunakan metakognisi dalam pembelajaran, setidaknya melibatkan tiga proses belajar yaitu merencanakan tujuan belajar, memantau tingkat pemahaman saat mempelajari materi pelajaran dan mengevaluasi hasil akhir dari proses belajar. Hal inilah yang membedakannya dengan pebelajar biasa.

Mari kita coba bandingkan ada dua siswa yang sama-sama belajar selama 3 jam.

Siswa pertama, belajar dengan cara membaca buku pelajari dari awal sampai selesai, menghafal materi pelajaran dan mengerjakan soal. Setelah selesai belajar ia sudah merasa sudah belajar dengan giat, tetapi tidak pernah memeriksa apakah ia benar-benarsdah memahami pelajran yang pelajari. Hasil ujian ia mendapatkan nilai yang tidak memuaskan.

Siswa yang kedua, belajar dengan menggunakan metakognisi. Ia mengawali belajarnya dengan merencanakan tujuan belajarnya. Strategi belajar apa yang cocok ia gunakan agar mudah memahami materi pelajaran. Pada saat belajar, ia secara berkala mengukur dan memantau materi mana yang sudah dipahami dan materi mana yang belum dipahami. Setelah selesai belajar ia mengevaluasi hasil belajarnya, dengan mengerjakan soal soal. Materi mana yang belum dikuasai dan dipahami secara menyeluruh. Kemudian merefleksikan dan mengubah strategi yang telah digunakan, dengan strategi yang lain yang mungkin lebih cocok sehingga pelajaran yang belum dipahami menjadi mudah dipahami dengan baik.

Dari dua siswa di atas, dapat kita lihat perbedaan strategi belajar siswa yang menggunakan metakognisi dalam belajar dengan siswa yang biasa. Sama-sama menghabiskan waktu yang sama dalam belajar, namun hasil belajarnya mungkin akan sangat jauh berbeda.

Banyak orang menganggap belajar hanya berarti menerima informasi sebanyak mungkin. Padahal belajar yang efektif bukan hanya sekedar mengisi wadah kosong di dalam otak. Belajar adalah proses aktif. Otak perlu memilih informasi penting, menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya, menyusun kembali informasi tersebut dan menggunakanya untuk memecahkan masalah.

Itulah metakognisi. Metakognisi tidak hanya diperlukan dalam belajar. Dalam melakukan segala aktivitas dalam kehidupan sehari-hari kita perlu menggunakan metakognisi, tanpa metakognisi,seseorang cenderung belajar secara otomatis. Ia membaca tanpa berpikir, menghafal tanpa memahami dan mengulang materi tanpa mengetahui apakah cara tersebut-benar benar berhasil. Akibatnya, waktu belajar menjadi panjang, tetapi hasilnya tidak maksimal.

Mengapa metakognisi terabaikan?

Metakognisi terabaikan karena pada kenyataanya di sekolah masih jarang diperkenalkan tentang metakognisi kepada siswa. Pendidikan di sekolah fokus pada isi pelajaran. Siswa dituntut untuk menguasai teori sebanyak mungkin tanpa diajarkan, bagaimana strategi belajar yang digunakan agar mudah memahami materi pelajaran tersebut. Sangat sedikit guru dalam mengajar menanyakan kepada siswa tentang: apa tujuan belajar hari ini, strategi belajar apa yang paling efektif yang harus digunakan untuk memahami materi, bagian mana yang belum dipahami, mengapa siswa sering melakukan kesalahan yang sama, dan apa yang harus diubah agar belajar jadi lebih efektif. Pertanyaan inilah yang merupakan inti metakognisi yang jarang sekali dilakukan guru di sekolah. Oleh karena itu, metakognisi menjadi sesuatu yang asing bagi siswa.

Apa saja langkah metakognisi dalam belajar?

Orang yang memiliki metakognisi tinggi, mereka bukan hanya belajar, tetapi juga belajar mengelola proses belajarnya. Adapun langkah metakognisi dalam belajar ada tiga yaitu:

  1. Merencanakan (Planning)
    Sebelum belajar siswa menentukan tujuan belajar yang ingin dicapai, memilih teknik atau strategi belajar yang akan digunakan agar materi mudah dipahami.
  2. Memantau (Monitoring)
    Mengecek tingkat pemahaman secara berkala saat proses belajar sedang berlangsung. Berhenti sejenak di tengah belajar dan tanyakan pada diri sendiri: apakah saya sudah paham dengan materi ini atau masih bingung dan kurang paham?” jika menemukan kesulitan, mereka tidak sekedar melanjutkan membaca, tetapi mencari cara lain agar benar benar memahami materi. Setelah menyadari kesulitan, kemudian mengganti metode yang lebih sesuai.
  3. Mengevaluasi (Evaluating)
    Setelah belajar, mereka menilai apakah tujuan telah tercapai. Jika belum, mereka memperbaiki strategi untuk sesi belajar berikutya. Merenungkan kembali efektivitas metode yang sudah dipakai. Menilai kembali hasil belajar setelah selesai. Apakah sudah paham, jawaban sudah benar semua, bagian mana yang salah dan yang kurang dimengerti, lalu ubah metode dan strategi belajar anda.


Pada dasarnya, metakognisi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan digunakan oleh siapa pun baik di sekolah maupun dirumah. Metakognisi sebenarnya bukanlah hal yang rumit, dan ada siswa yang sudah terbiasa dengan metakognisi dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak menyadarinya.

Kunci metakognisi yaitu mengajukan pertanyaan reflektif diri. Metakognisi dapat diringkas dalam tiga pertanyaan sederhana:

  1. Sebelum belajar: Apa tujuan belajar saya?
  2. Saat belajar: Apakah saya sudah memahami?
  3. Setelah belajar: Apa yang perlu saya perbaiki?


Tiga pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi justru menjadi kebiasaan yang membedakan pembelajar biasa dengan pembelajar yang efektif dan mandiri.

Saatnya pendidikan kita tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi pada pengembangan kemampuan berpikir siswa dengan mengajarkan dan mengenalkan metakognisi. Guru di sekolah memberi ruang kepada siswa untuk merencanakan, memantau dan mengevaluasi proses belajarnya. Orang tua pun dapat membantu dan membiasakan bertanya kepada anak di rumah. Bagaimana kamu belajar hari ini nak? Apa ada kendala dalam belajar? Sehingga metakognisi menjadi kebiasaan yang akan digunakan siswa baik dalam belajar di sekolah maupun beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya keberhasilan belajar bukan ditentukan oleh kecerdasan, banyaknya waktu belajar, tebalnya buku yang dibaca. Tetapi keberhasilan ditentukan oleh kemampuan seseorang memahami dan mengelola cara berpikirnya sendiri dengan metakognisi.

Di masa depan mereka yang berhasil bukanlah mereka yang mengetahui segalanya, melainkan mereka yang mampu terus belajar. Kemampuan untuk terus belajar bukanlah dimulai dari kecerdasan, melainkan dari kesadaran untuk memahami cara berpikirnya sendiri. Itulah metakognisi, sebuah kemampuan yang selama ini terabaikan, akan tetapi justru menjadi salah satu kunci utama menuju pembelajaran yang efektif, efisien, mandiri dan berkelanjutan yang menentukan faktor keberhasilan dalam belajar.

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I