Nur Chalisah
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
nchaliisahh@gmail.com
Pernahkah Anda membeli makanan kemasan hanya karena kemasannya menarik atau memiliki klaim “sehat”? Di tengah gaya hidup yang serba praktis, makanan kemasan menjadi pilihan banyak masyarakat karena mudah diperoleh dan dikonsumsi. Namun, tidak semua konsumen memahami informasi yang tercantum pada label kemasan. Padahal, label pangan merupakan sumber informasi penting yang dapat membantu masyarakat memilih produk yang aman dan sesuai dengan kebutuhan gizinya. Oleh karena itu, kemampuan membaca label pangan menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendukung pola konsumsi yang lebih sehat (BPOM, 2023).
Salah satu bagian yang perlu diperhatikan pada kemasan makanan adalah daftar komposisi. Informasi ini menunjukkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan produk dan disusun berdasarkan jumlah terbanyak hingga paling sedikit. Jika gula, sirup glukosa, atau bahan pemanis lainnya berada di urutan awal, maka kandungan bahan tersebut relatif tinggi dalam produk. Dengan memahami daftar komposisi, konsumen dapat mengetahui bahan utama yang terkandung dalam makanan yang akan dikonsumsi. Pengetahuan ini membantu masyarakat menjadi lebih kritis dalam memilih produk pangan (BPOM, 2023).
Selain komposisi, label kemasan juga memuat informasi nilai gizi yang memberikan gambaran mengenai kandungan zat gizi dalam suatu produk. Informasi tersebut biasanya mencakup energi, protein, lemak, karbohidrat, gula, dan natrium. Banyak konsumen hanya memperhatikan jumlah kalori tanpa melihat kandungan zat gizi lainnya. Padahal, produk dengan kalori rendah belum tentu memiliki kandungan gula atau garam yang rendah. Oleh karena itu, seluruh informasi pada tabel nilai gizi perlu diperhatikan secara menyeluruh sebelum membeli produk (Almatsier, 2019).
Hal lain yang sering terlewat adalah informasi mengenai takaran saji. Takaran saji menunjukkan jumlah produk yang digunakan sebagai dasar perhitungan nilai gizi pada kemasan. Banyak orang menganggap bahwa informasi gizi yang tertera berlaku untuk seluruh isi kemasan, padahal dalam beberapa produk satu kemasan dapat terdiri atas lebih dari satu porsi. Kesalahan dalam memahami takaran saji dapat menyebabkan konsumsi energi, gula, atau lemak yang lebih tinggi dari perkiraan. Karena itu, konsumen perlu mencermati jumlah sajian per kemasan sebelum mengonsumsi suatu produk (Kemenkes RI, 2022).
Saat berbelanja, masyarakat juga sering menemukan berbagai klaim pada kemasan, seperti “rendah lemak”, “tinggi serat”, atau “tanpa gula tambahan”. Klaim tersebut memang dapat memberikan informasi tambahan mengenai karakteristik produk. Namun, keberadaan satu klaim positif tidak selalu menunjukkan bahwa produk tersebut lebih sehat secara keseluruhan. Sebagai contoh, suatu produk dapat mengandung serat tinggi tetapi juga memiliki kadar gula yang cukup besar. Oleh sebab itu, konsumen tetap perlu memeriksa komposisi dan tabel nilai gizi untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap (BPOM, 2023).
Selain informasi gizi, label kemasan juga memuat keterangan penting yang berkaitan dengan keamanan pangan. Informasi tersebut meliputi tanggal kedaluwarsa, nomor izin edar, serta petunjuk penyimpanan produk. Produk yang telah melewati masa kedaluwarsa berpotensi mengalami penurunan mutu dan dapat membahayakan kesehatan konsumen. Begitu pula dengan produk yang disimpan tidak sesuai petunjuk pada kemasan. Oleh karena itu, memeriksa informasi keamanan pangan sebelum membeli merupakan kebiasaan yang perlu diterapkan oleh setiap konsumen (Winarno, 2008).
Dalam bidang analisis pangan, informasi yang tercantum pada label kemasan tidak muncul begitu saja. Data tersebut diperoleh melalui berbagai pengujian laboratorium untuk menentukan kandungan zat gizi dan mutu produk. Analisis dapat dilakukan terhadap kadar protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, hingga aspek keamanan mikrobiologis. Hasil pengujian kemudian digunakan sebagai dasar dalam penyusunan informasi pada label kemasan. Dengan demikian, label pangan menjadi sarana komunikasi yang menghubungkan hasil analisis ilmiah dengan kebutuhan informasi konsumen (Fellows, 2017).
Membaca label kemasan mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit, tetapi manfaatnya sangat besar bagi kesehatan. Kebiasaan ini dapat membantu masyarakat membandingkan berbagai produk dan memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, pemahaman terhadap label pangan juga dapat mengurangi risiko konsumsi zat gizi tertentu secara berlebihan. Di tengah banyaknya pilihan makanan kemasan yang tersedia saat ini, konsumen dituntut untuk lebih cermat dan kritis dalam mengambil keputusan. Dengan memahami informasi pada label kemasan, masyarakat dapat menjadi konsumen yang lebih cerdas dan sadar gizi (Almatsier, 2019).
Referensi:
Almatsier, S. 2019. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2023. Pedoman Label Pangan Olahan. Jakarta: BPOM RI.
Fellows, P. J. 2017. Food Processing Technology: Principles and Practice. Cambridge: Woodhead Publishing.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2022. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Winarno, F. G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.




