Yesanda
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
yesanda9@gmail.com
Pernahkah Anda berada di lorong supermarket, memegang dua produk makanan kemasan yang hampir mirip, dan merasa bingung memilih salah satunya? Banyak orang memilih berdasarkan harga, kemasan yang menarik, atau hanya karena mereka sudah mengenal merek tersebut. Namun, ada satu hal penting yang sering diabaikan, yaitu informasi gizi yang tertera di label bagian belakang kemasan. Ini adalah lokasi di mana semua informasi yang paling tepat tentang produk tersebut disimpan. Labelisasi produk sangat penting, menurut Prayuti et al. (2024) dalam buku Menjawab Kompleksitas Hukum di Tengah Masyarakat, karena membantu pelanggan membuat keputusan yang lebih cerdas saat mereka membeli dan menggunakan barang. Selain itu, label termasuk dalam peraturan perlindungan konsumen di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana pemerintah mengatur informasi yang harus dicantumkan untuk melindungi hak konsumen dan menjaga produsen tetap jujur.
Dalam buku Analisa Pangan, Harini et al. (2019) menyatakan bahwa analisis pangan adalah bidang ilmu yang mempelajari bagaimana mengembangkan dan menjelaskan sifat-sifat dan isi makanan. Memahami komponen yang memengaruhi kualitas makanan bergantung pada informasi yang diperoleh dari analisis ini. Selain itu, informasi ini bermanfaat untuk membuat produk makanan selalu aman, bergizi, dan memenuhi harapan pelanggan, termasuk memberikan informasi yang akurat tentang pilihan makanan mereka. Para ahli teknologi pangan menggunakan hasil analisis tersebut untuk memastikan bahwa produk yang dijual di pasaran benar-benar sesuai dengan apa yang tertulis di kemasannya, seperti halnya dokter yang menggunakan hasil laboratorium untuk menilai kondisi kesehatan pasien.
Dalam buku 220 Tips Makanan Hemat dan Sehat untuk Keluarga, Damayanti (2015) menyarankan agar pembeli mulai membiasakan diri membaca informasi nutrisi pada label makanan atau minuman sebelum membeli. Konsumen dapat melihat label saji untuk mengetahui berapa banyak porsi serta kandungan kalori, lemak, protein, dan karbohidrat yang terkandung di dalamnya. Damayanti (2015) juga mengingatkan konsumen untuk tidak memilih produk yang mengandung lebih dari lima bahan, zat aditif, atau bahan yang sulit dilafalkan. Selain itu, menurut Damayanti (2015), perlu diperhatikan istilah hydrogenated atau partially hydrogenated dalam komposisi makanan, yang merupakan jenis lemak trans yang tidak menyehatkan. Semakin awal kata-kata tersebut muncul dalam daftar komposisi, semakin banyak kandungan zat tersebut dalam produk.
Konsumen juga sering bingung dengan perbedaan antara istilah lite dan light. Damayanti (2015) menjelaskan bahwa tidak ada standar yang jelas untuk kata lite yang berarti lebih sedikit kalori, sedangkan light memiliki standar yang lebih ketat, yaitu produk tersebut mengandung kalori minimal sepertiga lebih sedikit daripada produk sejenis biasa. Konsumen pun disarankan untuk membandingkan label produk serupa dan memilih yang mengandung serat tinggi, lemak tak jenuh, protein, vitamin, dan mineral. Prayuti et al. (2024) juga menjelaskan bahwa jika ada produk yang berpotensi membahayakan konsumen, tindakan harus segera diambil, seperti menghentikan penggunaan dan melaporkannya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Dalam kasus yang serius, tindakan hukum dapat diambil, termasuk denda atau sanksi pidana, dan konsumen yang terdampak berhak atas kompensasi, serta produsen kemungkinan diperintahkan untuk menarik produk mereka dari penjualan.
Menurut Harini et al. (2019), tujuan utama analisis pangan adalah untuk menghasilkan makanan yang secara konsisten aman dan bergizi. Tujuan ini dapat dicapai hanya jika konsumen aktif berpartisipasi dalam memahami informasi yang disajikan kepada mereka. Membaca label kemasan mungkin tampak seperti kebiasaan yang mudah. Namun, ada keuntungan besar dari kebiasaan kecil ini — pelanggan menjadi lebih cerdas, lebih aman, dan lebih mampu memilih makanan mereka sendiri. Setiap kali Anda berhenti sejenak untuk membaca label sebelum membeli sesuatu, Anda membuat keputusan yang lebih bijak untuk kesehatan Anda dan keluarga. Dimulai dari kebiasaan sederhana itulah, gaya hidup sehat yang berkelanjutan dibangun, satu pilihan bijak dalam satu waktu.
Referensi:
Damayanti, D. (2015). 220 Tips Makanan Hemat dan Sehat untuk Keluarga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Harini, N., Marianty, R., & Wahyudi, V. A. (2019). Analisa Pangan. Sidoarjo: Zifatama Jawara.
Prayuti, Y., Gunawan, G., Anggraeni, H. Y., Herlina, E., Rasmiaty, M., Kurniasih, I., & Jaelani, R. (2024). Menjawab Kompleksitas Hukum di Tengah Masyarakat: Waris, Perlindungan Konsumen, dan Perjanjian. Penerbit Widina.





