logo-color

Publikasi
Artikel Populer

MENGUNGKAP JAMU BKO MELALUI PENDEKATAN ANALISIS PANGAN

Farah Nabila Sari

Farah Nabila Sari

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
farahnabilasari11@gmail.com

Sumber: pexels.com

Sejak Kongres Jamu Indonesia Pertama yang digelar pada tahun 1940 di Solo, eksistensi jamu sebagai pilar kesehatan tradisional telah diakui secara luas dalam kehidupan masyarakat. Hingga saat ini, penggunaan obat tradisional tersebut masih sangat diminati oleh masyarakat Indonesia karena dianggap efektif, murah, serta minim efek samping dibandingkan obat modern yang saat ini mendominasi pasar. Namun, kepercayaan masyarakat bahwa obat tradisional jauh lebih aman kini mulai terancam oleh maraknya jamu dengan tambahan Bahan Kimia Obat (BKO). Pandangan buruk ini terjadi akibat ulah pedagang ataupun industri nakal yang mengejar keuntungan besar dengan memanipulasi produk mereka agar memberikan efek “cespleng” secara instan.

Ancaman ini bukan sekadar cerita lama, melainkan bahaya nyata yang masih mengintai kita hingga hari ini. Melalui siaran pers resmi pada Mei 2026, BPOM RI kembali membongkar sedikitnya terdapat 22 merek Obat Bahan Alam (OBA) ilegal yang positif disusupi BKO. Produk-produk tersebut didominasi oleh jamu stamina pria dan pegal linu yang terdeteksi mengandung zat kimia keras mulai dari sildenafil, tadalafil, deksametason, hingga parasetamol (BPOM RI, 2026). Pemalsuan obat tradisional ini menjadi ancaman kesehatan yang luar biasa. Alih-alih bugar, konsumen justru dihadapkan pada risiko fatal seperti kerusakan lambung, gagal hati, hingga gagal ginjal akut.

Bagi orang awam, keberadaan zat kimia tersebut mustahil dideteksi secara fisik karena tersamarkan oleh kepekatan warna dan rasa getir herbal. Di sinilah disiplin analisis pangan berperan krusial. Analisis pangan bukan sekadar rutinitas laboratorium, melainkan sistem deteksi mutlak untuk membongkar manipulasi produk. Melalui pengujian yang ketat, kandungan zat asing yang diselundupkan ke dalam jamu dapat dilacak secara akurat sebelum produk berbahaya tersebut dikonsumsi masyarakat.

Bagaimana para analis pangan bekerja membongkar zat penyusup ini? Untuk membongkar siasat produsen nakal yang menyembunyikan 22 merek jamu ilegal tersebut, disiplin analisis pangan bergerak melalui sistem deteksi berlapis. Langkah pertama dimulai dari pengujian cepat (Rapid Test Kit) di lapangan yang berfungsi sebagai alarm awal saat inspeksi mendadak di pasar tradisional (Hasanah, 2016). Namun, karena pembuktian tersebut membutuhkan akurasi mutlak, sampel terindikasi positif wajib diuji lebih lanjut di laboratorium menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) (Rohman dan Gandjar, 2015). Metode ini secara logis mampu memisahkan molekul herbal asli dengan molekul obat kimia sintetik yang sengaja diselundupkan, terbukti dari munculnya noda visual yang sejajar dengan senyawa baku standar di bawah lampu ultraviolet.

Kejahatan obat tradisional ini kian kompleks karena produsen mulai memanipulasi struktur kimia obat (BKO analog) agar lolos dari pengujian standar. Oleh karena itu, pendekatan analisis tidak boleh kalah. Industri obat bahan alam dan laboratorium pengawas wajib menaikkan kelas pengujian ke tingkat kuantitatif menggunakan High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk menghitung kadar mikro obat ilegal secara presisi (Skoog et al., 2017). Bahkan, pada tingkat tertinggi, penggunaan teknologi mutakhir seperti Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS/MS) menjadi landasan data pengujian yang sangat valid dan tidak terbantahkan karena mampu melacak senyawa BKO langsung dari berat molekulnya dengan spesifik (Pranatha dan Astuti, 2024).

Saat ini, produsen nakal sudah berpindah tempat. Jamu oplosan BKO tidak hanya beredar di pasar tradisional atau warung klontong saja, melainkan sudah menjamur bebas di lapak online (e-commerce). Berbekal testimoni palsu dan klaim “100% herbal”, produk racun ini dengan mudah mengecoh konsumen di dunia maya. Di sinilah birokrasi pengawasan kita sering kali kalah cepat. Jika ruang gerak digital ini dibiarkan tanpa pengawasan ketat, platform belanja daring justru akan berubah menjadi fasilitator peredaran produk ilegal berbahaya berskala besar. BPOM RI dan kepolisian siber tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama yang serba lamban. Begitu hasil uji laboratorium keluar dan membuktikan adanya BKO, data tersebut harus langsung menjadi dasar hukum instan untuk memaksa platform belanja online memblokir toko digital pelaku di hari itu juga sebelum merenggut korban jiwa.

Pada akhirnya, analisis pangan bukan sekadar urusan rumit di dalam laboratorium, melainkan sebuah benteng pertahanan nyata untuk melindungi nyawa manusia dari bahaya racun yang tersembunyi. Bagi para akademisi dan pelaku industri, ketelitian dalam menguji keamanan produk adalah bentuk tanggung jawab moral demi menjaga kesehatan konsumen. Namun, benteng ini tidak akan pernah cukup jika kita sebagai konsumen masih saja abai. Sudah saatnya kita berhenti bersikap naif dengan memburu jamu “cespleng” yang menawarkan kesembuhan instan, tetapi secara perlahan merusak fungsi organ tubuh kita.

 

Referensi:

BPOM RI. (2026). Siaran Pers Nomor HM.01.2.1.05.26.01: BPOM temukan 22 obat bahan alam mengandung bahan kimia obat periode Maret 2026. Jakarta: BPOM RI.

Hasanah, A. N. (2016). Semua orang bisa jadi detektif bahan kimia obat dalam jamu dengan strip test. Majalah Farmasetika, 1(1), 1-2.

Pranatha, I. P. A., & Astuti, N. M. W. (2024). Analisis kandungan bahan kimia obat (BKO) dalam menjamin mutu jamu pegal linu di Indonesia. In Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi, 3, 9-21.

Rohman, A., & Gandjar, I. G. (2015). Kimia farmasi analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Skoog, D. A., Holler, F. J., & Crouch, S. R. (2017). Principles of instrumental analysis (7th ed.). Boston: Cengage Learning.

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I