Sulistiawati
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
suliistiia.17@gmail.com
Di zaman sekarang banyak sekali anak-anak yang mengkonsumsi makanan yang tidak sehat atau yang sering di sebut fast food, yang dimana mereka membelinya bukan karena enak ataupun mengandung zat gizi yang baik tetapi karena makanan tersebut viral karena memiliki tampilan yang menarik dan juga sering di riview oleh influencer yang beredar di media sosial. Hal tersebut membuat banyak anak-anak yang tertarik dan juga membeli makanan tersebut. Penting bagi kita untuk membaca komposisi makanan sebelum kita memakan makanan tersebut mengapa demikian, supaya kita mengetahui apa saja yang terkandung di dalam makanan tersebut (Mathofani et al., 2025). Di zaman sekarang banyak sekali anak-anak yang tidak membaca komposisi dari suatu makanan tersebut padahal hal tersebut sangat penting bagi mereka. Makanan yang biasanya di konsumsi biasanya mengandung banyak karbohidrat ataupun bahan tambahan pangan di bandingkan zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh (Sedijani, 2024). Pentingnya membaca komposisi makanan juga dapat meningkatkan pemahaman untuk menginterpretasikan nilai gizi pada pangan. Dengan membaca komposisi pada makan juga dapat menghindari mengkonsumsi zat yang dilarang ataupun dosis yang berlebihan.
Sosis merupakan makanan daging olahan yang terbuat dari daging ayam, daging sapi, maupun ikan yang dihaluskan, kemudian di tambahkan tepung dan juga bumbu-bumbu untuk menambah cita rasa yang kemudian di masukan ke dalam cetakan ataupun selongsong yang terbuat dari gelatin ataupun usus hewan. Daging ayam biasanya sering digunakan dalam pembutan sosisng yang dimna sebagai bahan baku utama yang harganya relatif terjangkau dan juga memiliki protein yang cukup tinggi. Bahan pengisi yang sering digunakan dalam pembuatan sosis adalah Isolated Soy Protein (ISP), yaitu protein kedelai murni berbentuk halus yang mengandung sekitar 90% protein. ISP berfungsi sebagai bahan pengikat karena kandungan proteinnya yang tinggi mampu memperbaiki stabilitas emulsi adonan. Selain ISP, Soy Protein Concentrate (SPC) juga banyak dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati dengan kandungan protein sekitar 70%. Penggunaan SPC dapat membantu meningkatkan daya ikat air serta memperbaiki emulsi pada adonan sosis (Kiranti et al., 2024). Di samping itu, tepung protein kedelai dapat memberikan tekstur yang lebih lembut, warna yang lebih menarik, meningkatkan cita rasa, dan mengurangi biaya produksi. Tepung yang kaya pati juga berperan dalam meningkatkan kemampuan mengikat air dan mengemulsi lemak, sehingga mutu sosis yang dihasilkan menjadi lebih baik
Sosis juga sering kali di jadikan makanan penganti lauk yang sering di konsumsi oleh anak-anak hingga dewasa, tetapi banyak dari mereka yang tidak membaca komposisi nya terlebih dahulu.Sosis memang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi jika bahan baku yang di gunakan 50% terdiri dari daging utuh sedangkan banyak sekali produk sosis yang hanya memiliki bahan baku daging utama nya hanya 15% – 20% , dominan bahan baku yang di gunakan yaitu tepung maupun bahan tambahan pangan seperti bumbu dan yang lain nya. Kita sebagai konsumen harus memperhatikan daftar komposisi dan informasi tentang nilai nutrisi yang tercantum pada kemasan. Kebiasaan ini dapat membantu orang-orang, terutama anak-anak, memilih barang-barang yang lebih baik, mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, dan menghindari mengonsumsi terlalu banyak makanan tambahan. Langkah sederhana yang dapat kita ambil untuk mengikuti pola makan sehat dan menjaga kesehatan dalam jangka panjang adalah membaca bahan-bahan sosis sebelum kita makan (Sartika, (2020).
Keamanan pangan merupakan kebutuhan masyarakat, karena diharapkan melalui makanan yang Aman, masyarakat akan terlindungi dari penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Dasar dari keamanan Pangan adalah upaya hygiene sanitasi makanan, gizi, dan safety.WHO Menyampaikan pentingnya keamanan pangan dengan mengeluarkan slogan “How safe is your food? From farm to plate, make food safe” dengan tujuan mengingatkan masyarakat untuk mengonsumsi Pangan yang hanya aman bagi tubuhnya. Berdasarkan Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 Menegaskan bahwa ketersediaan pangan harus sampai pada tingkat perseorangan dengan pangan yang aman dan bergizi. Kamanan pangan juga penting karena untuk menjamin penyediaan makanan yang higienis dan sehat adalah dasar dari manajemen makanan. Pengelolaan makanan yang tidak tepat dapat menyebabkan efek buruk seperti keracunan makanan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan, atau hewan yang terkandung dalam makanan, serta alergi. Keracunan makanan sering terjadi di negara maju dan negara berkembang, dengan cemaran mikroorganisme sebagai penyebab utama. Perilaku orang yang menyiapkan dan menyajikan makanan atau minuman berhubungan dengan kebersihan dan sanitasi, sehingga orang dianggap sebagai sumber penyakit yang dapat dipindahkan dari makanan ke orang lain.
Aspek keamanan pangan merupakan hal yang sangat penting bagi industri pangan yang bergerak dalam produksi bahan olahan makanan dan minuman. Salah satu bagian dari penerapan keamanan pangan adalah upaya untuk melindungi produk dari cemaran fisik, biologis, dan kimia yang dapat membahayakan atau merugikan kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Jika industri makanan dapat menerapkan prinsip keamanan pangan dalam sistem produksinya, konsumen dapat dilindungi dari risiko mengonsumsi makanan yang tidak aman. Keamanan pangan membantu reputasi dan keberlangsungan bisnis dengan melindungi konsumen dari risiko kesehatan yang disebabkan oleh mengonsumsi barang yang tidak aman. Karena industri pangan seringkali memainkan peran penting dalam pasokan pangan lokal, pemahaman dan penerapan praktik keamanan mencegah terjadinya resiko kontaminasi pangan atau keracunan makanan (Latifasari et al., 2025).
Referensi:
Kiranti, I., Hudi, L., & Pradiko, R. (2024). Chicken sausage production process at PT. X: Proses produksi sosis ayam di PT. X. Procedia of Engineering and Life Science, 5, 75–81.
Latifasari, N., Syifa, F., Agustia, F., Carantia, R., Septi, A. C., & Poppy, A. R. (2025). Peningkatan pengetahuan pentingnya keamanan pangan dalam sistem produksi yoghurt drink melalui sosialisasi di UKM Yoghurt Sehati Banyumas. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 92–100.
Mathofani, P. E., Kurniati, H., & Aulia, A. (2025). Kebiasaan membaca komposisi nilai gizi pada kemasan pangan (food packaging) untuk mencegah obesitas pada siswa sekolah menengah atas: Penelitian. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 3(4), 4772–4777.
Sartika, R. S. (2020). Keamanan pangan penyelenggaraan makanan bagi pekerja. Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas, 1(1), 29–35.
Sedijani, P. (2024). Penyuluhan pentingnya membaca label kemasan pangan untuk menjaga gizi seimbang. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 7(2), 726–728.




