logo-color

Publikasi
Artikel Populer

JANGAN ASAL MAKAN! PERHATIKAN MAKANANMU SEBELUM MASUK KE TUBUHMU

Nadiyah Al Widad

Nadiyah Al Widad

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
nadiahalwidad@gmail.com

Sumber: freestocks.org

Teman-teman, tahukah kamu kalau makanan kemasan sebelum diedarkan akan melalui proses analisis pangan? Analisis pangan merupakan proses pengujian produk pangan. Apakah suatu produk berbahaya atau tidak? Apakah ia jujur terhadap label yang tertera? Apakah ia mengandung gizi yang dijanjikan?

Yuk, cari tahu! Karena di balik kemasan yang rapi dan rasa yang lezat, ada laboratorium, ada tabung reaksi, ada ilmuwan yang bekerja seperti detektif. Mereka membedah makanan hingga ke partikel terkecil. Tujuannya satu yaitu melindungi Anda dari racun dan penyakit.

Sejak kapan manusia mulai menguji makanan? Sebelum abad ke-19, tidak ada yang namanya analisis pangan. Orang makan berdasarkan pengalaman nenek moyang: kalau setelah makan tidak mati, berarti aman. Cara ini simpel tetapi banyak memakan korban.

Tahun 1820, seorang apoteker di Jerman bernama Friedrich Accum menerbitkan buku yang menggemparkan Eropa. Ia menemukan bahwa roti dicampur tawas agar putih bersinar. Teh dicampur daun bekas yang disemir warna hitam besi. Susu diencerkan dengan air, lalu ditambah tepung dan kapur agar kental.

Accum berteriak lantang: “Masyarakat diracuni perlahan oleh penjual yang serakah!”

Sejak itu, lahirlah undang-undang pangan pertama di dunia. Inggris mengeluarkan The Pure Food and Drink Act tahun 1860. Makanan tidak boleh seenaknya dijual tetapi harus diuji dan dianalisis.

Lalu, apa sebenarnya analisis pangan itu? Sederhananya analisis pangan merupakan metode untuk mengetahui karakter dan sifat serta komponen yang terkandung pada suatu bahan pangan. Di laboratorium, makanan diuji tiga hal yaitu:

  1. Keamanannya — apakah mengandung bakteri berbahaya, logam berat, atau bahan kimia terlarang?
  2. Kejujurannya — apakah daging sapi benar-benar sapi? Apakah madu asli atau campuran gula?
  3. Kesesuaiannya — apakah kadar gula, garam, lemak sesuai dengan klaim di label?


Tanpa analisis pangan, produsen bebas berbohong. Konsumen hanya bisa pasrah. Contoh nyata di Indonesia di mana saat ini Pemerintah Indonesia mulai gencar menguji makanan pasar. Hasilnya mengejutkan: banyak mi basah mengandung formalin. Ya, formalin. Bahan pengawet mayat itu ternyata juga disuntikkan ke makanan. Bayangkan, makanan yang sehari-hari dimakan anak-anak ternyata membawa racun lambat.

Baru-baru ini, susu kental manis ramai diperbincangkan. Setelah dianalisis, ternyata kadar gulanya sangat tinggi, proteinnya rendah. Padahal banyak orang tua memberikannya kepada balita sebagai pengganti susu pertumbuhan. Analisis pangan membuka mata kita: itu bukan susu, itu gula cair dalam kemasan yang cantik.

Lantas, apa fungsi bagi industri pangan?Perusahaan makanan besar di Indonesia seperti Indofood, Mayora, Garudafood memiliki laboratorium sendiri. Bukan untuk gaya-gayaan. Sebab satu produk cacat bisa meruntuhkan perusahaan makanan yang dibangun puluhan tahun. Seperti kasus melamin di China (2008). Susu formula bayi dicampur melamin agar tes kadar protein palsu tinggi. Ribuan bayi sakit ginjal. Perusahaan bangkrut dalam sekejap. Ratusan ribu konsumen hilang kepercayaan.

Analisis pangan mencegah bencana itu. Setiap batch produksi diuji sebelum sampai ke tangan Anda. Sebagai konsumen cukup tiga hal yang perlu dilakukan untuk mencegahnya yaitu:

  1. Baca label gizi sebelum membeli. Itu adalah hasil analisis pangan yang disederhanakan untuk konsumen awam.
  2. Lihat nomor izin edar BPOM pada kemasan. Artinya produk itu sudah dianalisis di laboratorium resmi.
  3. Jangan mudah percaya klaim bombastis seperti “herbal alami”, “detox”, atau “superfood” tanpa bukti uji laboratorium.
  4.  Amati fisik produk dengan seksama.


Jadi, analisis pangan adalah proses pengujian yang memastikan makanan aman dan tidak berbahaya sebelum sampai ke mulut Anda. Tanpanya, bisa saja zat berbahaya seperti formalin masuk ke dalam pangan anda. Maka, sebagai konsumen, cukup lakukan tiga hal yaitu baca label, cek izin BPOM, jangan percaya klaim kosong, dan mengamati fisik produk dengan seksama.

Itu sudah bentuk analisis pangan versi Anda. Dan itu sudah cukup untuk meminimalisir tubuh dari kerugian. Tanpa analisis pangan, Anda tidak akan tahu akan kandungan yang terdapat pada suatu produk. Maka, ketika Anda memegang sebungkus makanan kemasan di supermarket, ingatlah di balik izin edar dan label gizi yang tercantum, ada laboratorium, ada ilmuwan, ada ribuan pengujian. Mereka bekerja agar makananan yang diterima tidak berbahaya bagi konsumen. 

Yuk, mulai sekarang lebih cermat memilih makanan. Karena makanan yang aman adalah hak kita semua.

 

Referensi:

Aditia, Maruli Radja. 2008. Sindikat “Susu Melanin” Ditangkap. https://www.antaranews.com/berita/118973/sindikat-susu-melamin-ditangkap

Alex dan Dungkal. 2014. Mie Gunakan Formalin Banyak Beredar di Masyarakat. https://investor.id/national/97045/mie-gunakan-formalin-banyak-beredar-di-masyarakat

Fitri. 2018. Kompleksitas Polemik Susu Kental Manis dalam Tataran Regulasi di Indonesia. https://www.hukumonline.com/berita/a/kompleksitas-polemik-susu-kental-manis-dalam-tataran-regulasi-di-indonesia-lt5bf8ec8435f8c

Nendissa, S. J., Tuarita, M. Z., Anggraini, I. M. D., Khurniyati, M. I., Sinaga, Y. M. R., Hermanto, S. R., dan Rahayu, T. I. (2024). BUKU ANALISIS PANGAN. Penerbit Widina.

Middleton, L. (2022). Feeding the 1820s: Bread, beer and anxiety. Edinburgh University Press.

 

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I