Kalina Denara Putri
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
linaraalin@gmail.com
Ketika membeli roti di minimarket, memesan makanan secara daring, atau memilih susu untuk sarapan, sebagian besar dari kita jarang memikirkan bagaimana keamanan produk tersebut dijamin sebelum sampai ke tangan konsumen. Sebagian besar masyarakat mungkin hanya memperhatikan rasa, harga, dan tanggal kedaluwarsa saat membeli makanan. Masyarakat cenderung beranggapan bahwa selama makanan terlihat baik, beraroma normal, dan belum melewati tanggal kedaluwarsa, maka makanan tersebut aman untuk dikonsumsi. Padahal, keamanan pangan tidak dapat dinilai hanya dari penampilan luarnya. Ada berbagai proses pengujian dan pengawasan yang dilakukan untuk memastikan bahwa pangan yang beredar tidak mengandung zat berbahaya, memiliki mutu yang baik, serta sesuai dengan informasi yang tertera pada kemasan. Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, keamanan pangan merupakan kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Keamanan pangan menjadi isu yang sangat penting karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang secara langsung memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat.
Analisis Pangan Sebagai Dasar Penjaminan Keamanan Pangan
Untuk memastikan bahwa suatu produk pangan aman dikonsumsi, diperlukan serangkaian pengujian yang dikenal sebagai analisis pangan. Analisis pangan merupakan kegiatan ilmiah yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia, biologis, dan sensoris suatu bahan pangan. Hasil analisis digunakan untuk menentukan mutu produk, kandungan gizi, kesesuaian dengan standar, serta mendeteksi adanya cemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Dalam praktiknya, analisis pangan mencakup berbagai pengujian, seperti analisis kadar air, kadar abu, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, serta pengujian mikrobiologi dan cemaran kimia. Pengujian kadar air misalnya, berperan penting dalam menentukan umur simpan produk karena kadar air yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. Sementara itu, analisis mikrobiologi digunakan untuk mengetahui keberadaan bakteri patogen seperti Salmonella dan Escherichia coli yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan. Menurut Lukman dan Kusnandar (2015), sistem keamanan pangan yang efektif harus didukung oleh kegiatan pengujian dan verifikasi yang mampu memastikan bahwa seluruh persyaratan keamanan telah terpenuhi sebelum produk sampai kepada konsumen. Dengan demikian, analisis pangan berfungsi sebagai alat pengendalian mutu sekaligus instrumen perlindungan konsumen.
Bahaya yang Mengintai dalam Pangan
Pentingnya analisis pangan semakin terasa ketika melihat masih ditemukannya kasus pangan yang mengandung bahan berbahaya. Dalam penelitian muhsanah et al., (2026) menunjukkan bahwa beberapa makanan jajanan masih ditemukan mengandung zat yang tidak diperbolehkan untuk pangan, seperti formalin maupun pewarna sintetis tertentu yang berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengawasan dan pengujian pangan masih sangat dibutuhkan untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak. Bahaya dalam pangan dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu bahaya biologis, kimia, dan fisik. Bahaya biologis merupakan penyebab utama terjadinya penyakit bawaan pangan dan biasanya berasal dari bakteri, virus, kapang, maupun parasit. Mikroorganisme tersebut dapat mencemari pangan selama proses produksi, distribusi, maupun penyimpanan yang tidak memenuhi prinsip higiene dan sanitasi.
Bahaya kimia dapat berasal dari residu pestisida, logam berat, antibiotik, maupun penggunaan bahan tambahan pangan yang melebihi batas yang diizinkan. Dalam beberapa kasus, masih ditemukan penggunaan bahan berbahaya seperti formalin dan pewarna tekstil pada produk pangan tertentu. Sementara itu, bahaya fisik dapat berupa serpihan kaca, logam, plastik, rambut, atau benda asing lain yang masuk ke dalam produk selama proses produksi. Karena sebagian besar bahaya tersebut tidak dapat dikenali secara visual oleh konsumen, maka pengujian laboratorium menjadi langkah yang sangat penting. Analisis pangan memungkinkan identifikasi berbagai cemaran tersebut sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum produk dipasarkan. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan pangan tidak dapat hanya mengandalkan pengamatan fisik, tetapi memerlukan pendekatan ilmiah yang sistematis.
Label Pangan: Hasil Analisis yang Sampai ke Tangan Konsumen
Selain keamanan, analisis pangan juga berperan dalam memastikan keakuratan informasi yang tercantum pada label kemasan. Banyak konsumen tidak menyadari bahwa informasi yang tercantum pada label pangan merupakan hasil dari proses analisis yang panjang. Label pangan berfungsi sebagai sarana komunikasi antara produsen dan konsumen mengenai karakteristik suatu produk. Informasi seperti kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, gula, natrium, serta daftar bahan penyusun diperoleh melalui pengujian dan verifikasi yang dilakukan sebelum produk dipasarkan. Penelitian Rimbawan et al., (2023) menyebutkan bahwa label pangan merupakan instrumen yang efektif untuk melindungi kesehatan konsumen terkait aspek keamanan dan gizi produk. Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa tingkat kepatuhan pelabelan pada industri mikro dan kecil masih bervariasi, dengan tingkat pemenuhan regulasi berkisar antara 54–75% tergantung jenis produk. Temuan ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pelabelan pangan masih perlu ditingkatkan agar informasi yang diterima konsumen benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Keakuratan label menjadi sangat penting karena banyak konsumen menggunakan informasi tersebut sebagai dasar dalam memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan mereka. Oleh karena itu, analisis pangan berperan langsung dalam memastikan bahwa informasi yang tercantum pada kemasan sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya. Pada akhirnya, makanan yang aman bukanlah hasil dari kebetulan. Di balik setiap produk pangan yang kita konsumsi terdapat proses pengujian, pengawasan, dan pengendalian yang dilakukan secara sistematis. Analisis pangan berperan penting dalam mendeteksi cemaran, memastikan kandungan gizi, serta menjamin bahwa produk yang beredar memenuhi standar keamanan yang berlaku. Sebagai konsumen, kita juga memiliki peran dengan lebih cermat membaca label, memperhatikan izin edar, dan memilih produk dari produsen yang terpercaya. Dengan kerja sama antara industri, pemerintah, dan masyarakat, keamanan pangan dapat terus terjaga sehingga makanan yang kita konsumsi setiap hari benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan, bukan justru menimbulkan risiko.
Referensi:
Lukman, A. S., dan Kusnandar, F. 2015. Keamanan pangan untuk semua. Jurnal Mutu Pangan: Indonesian Journal of Food Quality. Vol. 2(2): 152-156.
Rimbawan, R., Mauludyani, A. V. R., & Rusyda, A. L. (2023). Compliance level to food labelling regulation for micro and small-sized enterprises products: A descriptive study in Wonosobo District, Indonesia. Jurnal Mutu Pangan: Indonesian Journal of Food Quality. Vol. 10(1): 33–41.
Muhsanah, F., Abbas, H. H., Sulaeman, U., & Adelia, D. 2026. Kajian keamanan pangan: Analisis methanyl yellow dan formalin pada makanan jajanan di SDN Rappokalling. Window of Public Health Journal. Vol. 7(2)




