Aulia Pratiwi
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
auliapratiwitan@gmail.com
Saat sariawan muncul, luka kecil di mulut itu bak api yang menyala-nyala setiap kali terkena rangsangan. Makanan pedas menjadi musuh utama karena senyawa capsaicin di dalamnya langsung membakar luka, memicu perih yang luar biasa, dan memperparah iritasi. Inilah mengapa para ahli dan dokter gigi dengan tegas melarang konsumsi makanan pedas selama sariawan belum sembuh total. Semakin parah iritasi yang terjadi, semakin besar pula ketidaknyamanan yang dirasakan saat makan dan berbicara.
Lalu bagaimana cara menyembuhkan sariawan? Dua senjata ampuh yang murah meriah ada di sekitar kita: air putih dan vitamin C. Air putih menjaga kelembapan mulut sekaligus membersihkan luka dari kuman, sementara vitamin C bekerja mempercepat regenerasi jaringan yang rusak dan meredakan peradangan. Kombinasi sederhana ini terbukti efektif memulihkan sariawan tanpa perlu obat-obatan mahal. Karena itu, kebutuhan cairan dan asupan vitamin yang cukup penting diperhatikan selama masa pemulihan sariawan.
Tapi tahukah Anda ada kejutan besar dari dapur? Cabai, sumber pedas yang justru dilarang saat sariawan, ternyata menyimpan kadar vitamin C yang sangat tinggi, bahkan melampaui jeruk dalam takaran yang sama. Banyak orang mengenal cabai sebagai bahan makanan yang memberikan sensasi pedas dan membuat hidangan terasa lebih nikmat. Bahkan, beberapa jenis cabai diketahui memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi sehingga sering dianggap sebagai sumber antioksidan alami. Fakta ini menunjukkan bahwa cabai tidak hanya memiliki fungsi sebagai penyedaprasa, tetapi juga memiliki nilai gizi yang cukup baik.
Berdasarkan penelitian, bayangkan, siapa sangka si kecil cabai rawit yang membakar lidah, ternyata menyimpan kekuatan tersembunyi. Berdasarkan penelitian, kadar vitamin C dalam cabai merah keriting mencapai 50 g/100 g. Selain itu, dilaporkan juga bahwa cabai rawit merah mengandung vitamin C sebanyak 38 g/100 g. Jumlah tersebut menjadikan cabai sebagai salah satu bahan pangan yang berpotensi menyumbang kebutuhan vitamin C harian.
Artinya, secara nutrisi, cabai adalah sumber vitamin C yang sangat baik. Kandungan vitamin C yang tinggi tersebut berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan yang kuat sehingga berpotensi membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Seharusnya dalam jumlah tersebut, cabai juga dapat memberikan efek antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat suatu bahan pangan perlu dipertimbangkan Bersama karakteristik lain yang dimilikinya.
Manfaat vitamin C yang terdapat pada cabai tidak dapat digunakan ketika proses penyembuhan sariawan. Hal tersebut dikarenakan sensasi pedas dari cabai (capsaicin) memperparah iritasi dan rasa sakit sariawan. Akibatnya, luka sariawan yang seharusnya segera pulih justru semakin lama sembuh karena terus-menerus terkena rangsangan panas dari makanan pedas. Dengan kata lain, kandungan vitamin C yang tinggi pada cabai tidak mampu mengimbangi efek iritasi yang ditimbulkan oleh rasa pedasnya terhadap luka sariawan.
Sariawan terasa seperti luka kecil yang menyakitkan di mulut, membuat makan jadi tersiksa dan berbicara pun terasa tidak enak. Area sariawan yang meradang ini sangat sensitif terhadap apa pun yang menyentuhnya. Makanan pedas menjadi musuh utama karena bisa membuat perihnya semakin menjadi-jadi, sehingga saat sariawan menyerang, penderita disarankan untuk menjauhi dulu makanan yang pedas-pedas. Pada kondisi tertentu, rasa dan karakteristik suatu makanan bisa sama pentingnya dengan nilai gizinya.
Jangan khawatir, masih banyak sumber vitamin C ramah sariawan yang tidak akan membuatmu menjerit kesakitan. Jambu biji, pepaya, jeruk manis, atau stroberi bisa menjadi pilihan karena kandungan vitamin C-nya tinggi tetapi tidak menyengat luka di mulut. Bahkan suplemen vitamin C yang dilarutkan dalam air putih juga aman diminum sambil membantu mempercepat penyembuhan sariawan tanpa rasa perih. Pada akhirnya, analisis pangan membantu kita memilih sumber gizi yang paling sesuai untuk mendapatkan manfaat yang optimal.
Sumber:
Rosmainar, L., Ningsih, W., Ayu, N. P., & Nanda, H. (2018). Penentuan kadar vitamin C beberapa jenis cabai (Capsicum sp.) dengan spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Kimia Riset, 3(1), 1-5.
Maryam, S., Razak, R., Baits, M., & Salim, A. F. (2023). Analysis of Vitamin C and Antioxidant Activity of Capsicum frutescens L. and Capsicum annuum L. Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology, 1(1), 57-64.
Safely, N. M., Nur’aeny, N., & Hidayat, W. (2017). Profil lesi stomatitis aftosa rekuren pada pasien di instalasi Ilmu Penyakit Mulut RSGM Unpad periode 2014-2015. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students, 1(2), 110-116.




