Heny Pertiwi
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
pertiwiheny937@gmail.com
Makanan merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi manusia. Setiap hari manusia mengonsumsi berbagai jenis makanan, baik makanan yang diolah sendiri maupun makanan yang dibeli. Namun, sering kali makanan yang awalnya segar dapat berubah menjadi basi dalam waktu yang singkat. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi rasa, tetapi juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika tetap mengonsumsi makanan yang sudah basi. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab makanan menjadi basi dari sudut pandang ilmiah.
Makanan basi adalah kondisi ketika makanan mengalami penurunan kualitas, baik secara fisik, kimia, maupun mikrobiologis. Tanda-tanda makanan basi biasanya makanan mengalami perubahan bau, rasa, warna, dan tekstur. Menurut Rahmiati et al (2024), pembusukan makanan terutama pada buah dan sayur biasanya ditandai dengan perubahan karakteristik fisik serta munculnya organisme pembusuk yang dapat menurunkan kualitas dan umur simpan produk. Hal ini menunjukkan bahwa makanan yang basi sebenarnya telah mengalami proses kerusakan yang kompleks.
Nah, salah satu penyebab utama makanan menjadi basi yaitu karena adanya aktivitas mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang dalam makanan dengan cara memanfaatkan nutrisi dari makanan. Berbagai jenis jamur seperti Aspergillus sp., Rhizopus sp., dan lainnya dapat tumbuh pada bahan pangan dan dapat menyebabkan pembusukan. Selain itu, cemaran mikrobiologi pada makanan juga menjadi faktor penting dalam penurunan kualitas dan keamanan pangan. Akibat aktivitas mikroorganisme ini, makanan menjadi berbau tidak sedap, berubah warna, sehingga makanan menjadi tidak layak untuk dikonsumsi.
Selain mikroorganisme, makanan juga dapat rusak karena terjadinya reaksi kimia, salah satunya adalah oksidasi. Oksidasi lemak dalam makanan dapat menyebabkan kerusakan flavor atau aroma serta dapat menghasilkan senyawa yang dapat menimbulkan bau tidak sedap atau bau tengik. Hal ini sering terjadi pada minyak goreng yang sering digunakan berulang kali. Dimana hal ini sejalan dengan Pratiwi dan Meikapasa (2025) yang menyatakan bahwa penggunaan minyak goreng berulang dapat meningkatkan nilai oksidasi, yang menandakan terjadinya kerusakan kualitas pada minyak.
Tak hanya itu, pada proses pembusukan makanan tidak terjadi secara instan, tetapi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan. Beberapa faktor utama meliputi suhu, kelembapan, dan kadar air. Menurut Khoerunnisa et al (2023), suhu penyimpanan sangat memengaruhi kualitas pangan, di mana pada suhu rendah dapat memperlambat kerusakan dan juga memperpanjang umur simpan. Selain itu, kelembapan dan kadar air juga memengaruhi pertumbuhan jamur pada makanan. Selain itu, terdapat juga faktor lain seperti penanganan dan penyimpanan juga turut berpengaruh terhadap kecepatan pembusukan pangan.
Analisis pangan merupakan bagian yang penting dalam memastikan makanan aman untuk dikonsumsi. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui adanya cemaran mikroba, kandungan kimia, dan juga kualitas produk secara keseluruhan. Menurut Siahaan et al (2025), pengujian mikrobiologi seperti Total Plate Count (TPC) dan uji bakteri patogen sangat penting untuk memastikan bahwa makanan masih berada dalam batas aman konsumsi. Dengan adanya analisis pangan ini kualitas makanan dapat dipantau sejak produksi hingga konsumsi, sehingga dapat mencegah risiko kesehatan.
Selain itu, mengonsumsi makanan yang telah basi dapat berdampak pada gangguan kesehatan, seperti keracunan makanan. Di Indonesia sendiri, masalah keamanan pangan masih menjadi perhatian penting karena adanya potensi cemaran mikroba dan bahan berbahaya dalam makanan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda makanan basi sebelum dikonsumsi. Makanan yang menjadi basi merupakan hasil dari proses ilmiah yang melibatkan aktivitas mikroorganisme dan juga reaksi kimia. Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan cara penyimpanan juga memengaruhi kecepatan proses tersebut. Melalui pemahaman tentang penyebab makanan basi dan juga penerapan analisis pangan, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyimpan dan mengonsumsi makanan. Dengan demikian, keamanan pangan dapat terjaga dan risiko kesehatan dapat diminimalkan.
Referensi:
Khoerunnisa, T., Rosalinda, S., dan Suryaningrum, D.P. 2023. Analisis Perlakuan Pra Pendinginan, Suhu Penyimpanan, dan Kemasan terhadap Kualitas Brokoli. Jurnal Teknotan. Vol. 17(3): 181-188.
Pratiwi, N.P.C dan Meikapasa, N.W.P. 2025. Analisis Total Oxidation Value Minyak Goreng Bekas Pada Beberapa Produk Olahan Pangan Di Pasaran. Jurnal Teknologi dan Mutu Pangan. Vol. 3(2): 88-95.
Rahmiati, R., Situmorang, T.S., Simanjuntak, H.A., Karnina, S., dan Fadilla, Z. 2024. Karakterisasi Kerusakan Fisik, Proses Pembusukan dan Jamur Pembusuk pada Buah dan Sayur. Journal of Natural Sciences. Vol. 5(2): 123-132.
Siahaan, E.S.S., Triana, R., Situmorang, N., Pulungan, A.S., dan Panggabean, N.H. 2025. Implementasi Prinsip Bioetika dalam Pengujian Cemaran Mikroba Patogen Pangan. Jurnal Biogenerasi. Vol. 10(2): 1164-1172.



