logo-color

Publikasi
Artikel Populer

UNGKAP! TAHU BERFORMALIN ATAU TAHU SEGAR? ANALISIS PANGAN SEDERHANA MENGGUNAKAN UBI JALAR UNGU

Zaynan Nabilah

Zaynan Nabilah

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
zaynannabila@gmail.com

Pangan yang aman dan berkualitas sangat penting untuk menjaga kesehatan. Kini, masih ditemukan beberapa kasus penggunaan bahan berbahaya dalam makanan, salah satunya adalah formalin. Formalin merupakan bahan kimia yang sebenarnya digunakan untuk mengawetkan mayat, spesimen biologis, dan berbagai keperluan industri. Penggunaan formalin pada makanan dilarang karena dapat membahayakan kesehatan manusia.

Tahu merupakan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena harganya terjangkau, bergizi tinggi, dan mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan. Terdapat beberapa pedagang yang menggunakan pengawet sebagai pengawet dan pembentuk tekstur tahu. Padahal, jika dikonsumsi terus-menerus, formalin dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti iritasi saluran pencernaan, kerusakan organ tubuh, bahkan meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang.

Untuk mencegah konsumsi tahu berformalin maka masyarakat dapat melakukan pengamatan atau analisis sederhana untuk mengenali tahu yang diduga mengandung formalin. Menurut Hayat dan Darsumi (2021) tahu berformalin biasanya bertekstur lebih kenyal dan padat, tidak mudah hancur saat ditekan, berwarna lebih cerah serta tampak mengilap. Tahu berformalin memiliki rongga yang lebih banyak dan dapat memantul ketika dijatuhkan. Tahu jenis ini juga lebih awet dibandingkan tahu segar karena tidak mudah rusak meskipun disimpan pada suhu ruang dalam waktu yang lebih lama. Dari segi aroma, tahu berformalin memiliki bau khas formalin atau bau kimia. Ciri-ciri tersebut dapat digunakan sebagai langkah awal untuk mengenali tahu yang diduga mengandung formalin.

Setelah mengetahui ciri-ciri tahu berformalin, masyarakat juga perlu mengetahui karakteristik tahu segar yang aman untuk dikonsumsi. Tahu segar umumnya memiliki aroma khas kedelai yang menandakan bahan bakunya masih alami dan tidak mengandung bahan pengawet berbahaya. Teksturnya cenderung lembut serta mudah hancur ketika ditekan, berbeda dengan tahu berformalin yang lebih kenyal dan padat. Dari segi warna, tahu segar biasanya berwarna putih alami atau sedikit kekuningan, tidak tampak terlalu cerah maupun mengilap. Tahu segar memiliki masa simpan yang relatif pendek sehingga mudah mengalami kerusakan apabila disimpan terlalu lama pada suhu ruang. Tahu yang aman juga tidak memiliki bau kimia yang menyengat, melainkan aroma alami khas produk olahan kedelai.

Menurut Winarno (2004) antosianin merupakan pigmen alami yang memberikan warna merah, ungu, atau biru pada berbagai jenis buah, sayuran, dan bunga. Senyawa ini memiliki sifat sensitif terhadap perubahan tingkat keasaman sehingga warnanya dapat berubah ketika bereaksi dengan zat tertentu. Khaira (2016) menjelaskan pada suasana asam antosianin cenderung berwarna merah, sedangkan pada kondisi yang lebih basa warnanya berubah menjadi ungu hingga biru. Sifat inilah yang menjadikan antosianin berpotensi digunakan sebagai pendeteksi formalin pada makanan.

Dalam pengujian tahu putih menggunakan antosianin dapat terapkan menggunakan metode yang berasal dari Nuhman dan Wilujeng (2017) bahwa ubi jalar ungu dapat digunakan sebagai sumber antosianin karena kandungannya cukup tinggi. Tahap pertama dilakukan dengan menghaluskan 50 gram tahu putih, kemudian mencampurkannya dengan 100 mL aquades dan menyaringnya hingga diperoleh filtrat tahu. Ubi jalar ungu diparut dan diperas untuk mendapatkan ekstraknya. Ekstrak tersebut kemudian diencerkan menggunakan aquades atau air suling. Larutan tahu yang telah disiapkan kemudian dicampurkan dengan ekstrak ubi jalar ungu pada perbandingan 1:1. Campuran tersebut dipanaskan selama kurang lebih satu menit untuk mempercepat terjadinya reaksi. Setelah pemanasan, warna larutan diamati secara visual. Adanya perubahan warna dari ungu menjadi oranye, merah keunguan, atau merah muda menunjukkan indikasi bahwa sampel tahu mengandung formalin.

Kemampuan ubi jalar ungu sebagai indikator alami berasal dari kandungan antosianinnya yang cukup tinggi, yaitu sekitar 519 mg per 100 gram bahan segar. Antosianin pada ubi jalar ungu tersusun atas beberapa senyawa seperti cyanidin, pelargonidin, peonidin, dan malvidin. Ketika formalin yang bersifat asam berinteraksi dengan senyawa-senyawa tersebut, terjadi perubahan struktur pigmen yang menyebabkan warna larutan berubah. Maka ekstrak ubi jalar ungu dapat dimanfaatkan sebagai metode sederhana, murah, dan mudah untuk mendeteksi adanya formalin pada tahu putih.

Analisis Pangan Sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada saat membeli tahu, konsumen dapat memperhatikan warna, tekstur, aroma, dan daya tahannya. Jika ditemukan ciri-ciri yang mencurigakan, sebaiknya hindari membeli atau mengonsumsinya. Pentingnya Menjadi Konsumen cerdas dengan kesadaran masyarakat dalam memilih pangan yang aman sangat penting untuk melindungi kesehatan diri sendiri dan keluarga.

Dengan melakukan analisis pangan sederhana masyarakat dapat mengetahui ciri-ciri tahu berformalin dan tahu segar, konsumen dapat lebih berhati-hati dalam membeli bahan pangan sehari-hari. Masyarakat juga diharapkan membeli produk dari penjual yang terpercaya dan menjaga pola konsumsi makanan yang sehat.

Referensi:

Hayat, F., & Darusmini, D. (2021). Analisis Faktor Penggunaan Formalin pada Pedagang Tahu di Pasar Tradisional Kota Serang. Jurnal Surya Muda, 3(2), 121-132.

Khaira, K. (2016). Pemeriksaan formalin pada tahu yang beredar di Pasar Batusangkar menggunakan kalium permanganat (KMnO4) dan kulit buah naga. Sainstek: Jurnal Sains dan Teknologi, 7(1), 69-76.

Nuhman, N., & Wilujeng, A. E. (2017). Pemanfaatan ekstrak antosianin dari bahan alam untuk identifikasi formalin pada tahu putih. Jurnal sains, 7(14).

Winarno. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Tags

Share this post:

Postingan Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jika ingin berlangganan berita dari kami, silakan memasukkan email pada kolom di bawah ini

Radar Edukasi adalah portal berita pendidikan di bawah naungan Penerbit P4I