Chesya Ermada Naisyila
Mahasiswa Sultan Ageng Tirtayasa
chesyaermada@gmail.com
Gambar: Ilustrasi es teh manis
Sumber: pexels.com
Saat cuaca panas, banyak orang memilih minuman dingin untuk melepas dahaga. Es teh, es campur, es kuwut, minuman kemasan instan, hingga air minum isi ulang menjadi andalan sehari-hari karena memberikan rasa segar. Bahkan, minuman seperti ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan dan gaya hidup masyarakat. Namun, di balik kesegarannya, ada potensi bahaya yang sering luput dari perhatian, yaitu adanya kontaminasi mikroorganisme.
Kebanyakan konsumen menilai layak tidaknya suatu minuman hanya dari rasa, warna, dan aroma. Padahal, minuman yang tampak bersih belum tentu aman. Mikroorganisme tidak terlihat oleh mata, dan kasus keracunan pangan akibat minuman masih sering terjadi di berbagai daerah. Berbeda dengan makanan rusak yang biasanya berubah warna atau bau, minuman yang tercemar mikroba kerap masih tampak normal. Kondisi inilah yang membuat banyak orang tidak menyadari risiko kesehatan dari minuman yang mereka konsumsi.
Bagaimana Minuman Dapat Tercemar Mikroba?
Kontaminasi mikroba pada minuman bisa terjadi di berbagai tahap, mulai dari bahan baku, peralatan, hingga cara penyajian. Sumber air, es batu, peralatan yang kurang bersih, dan tangan pengolah makanan dapat menjadi sumber masuknya mikroorganisme ke dalam produk. Selain itu, kondisi sekitar seperti lingkungan penyajian yang tidak bersih, udara yang terkontaminasi, serta keberadaan debu atau serangga juga dapat berkontribusi terhadap pencemaran mikroba. Jika tidak dikelola dengan baik, risiko pencemaran mikroba meningkat.
Minuman memiliki kadar air yang tinggi, sehingga sangat mendukung pertumbuhan mikroba. Beberapa bakteri yang sering ditemukan adalah kelompok koliform, seperti Escherichia coli. Menurut Setyati et al. (2022), bakteri koliform umumnya ada di lingkungan perairan dan dapat masuk melalui kontaminasi tinnja, air yang tidak higienis, atau proses penanganan yang kurang sanitasi. Oleh karena itu, penerapan higiene dan sanitasi yang baik sangat penting untuk mencegah kontaminasi.
Peran Analisis Pangan dalam Menjamin Keamanan Minuman
Tidak semua kontaminasi mikroba bisa dideteksi secara fisik. Minuman yang mengandung mikroorganisme bisa tetap jernih dan terasa normal. Di sinilah analisis pangan berperan. Menurut Maesyaroh (2026), analisis pangan adalah serangkaian metode pengujian untuk menilai mutu, keamanan, dan karakteristik bahan pangan berdasarkan parameter fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Dengan analisis ini, kualitas minuman dapat dinilai secara objektif.
Dua metode umum dalam analisis mikrobiologi minuman adalah Angka Paling Mungkin (APM) dan Angka Lempeng Total (ALT). APM digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri koliform dalam sampel guna mendeteksi kemungkinan kontaminasi lingkungan atau sanitasi yang kurang baik (Habibah, 2016). Sementara ALT digunakan untuk menghitung total bakteri yang tumbuh, sehingga memberi gambaran kualitas mikrobiologis minuman (Wiratna et al., 2019).
Standar Nasional Indonesia (SNI) telah menetapkan batas cemaran mikroba untuk minuman. Contohnya, SNI 3143:2025 menetapkan batas maksimum ALT untuk minuman teh kemasan sebesar 10³ koloni/mL, dan untuk E. coli maksimum 1,8 APM/100 mL. Dengan adanya standar ini, analisis pangan menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu minuman layak edar. Produk yang beredar di masyarakat dapat diawasi, sehingga risiko gangguan kesehatan akibat mikroba bisa ditekan.
Mengapa Kita Perlu Waspada?
Keberadaan koliform dalam minuman bisa menjadi indikator adanya bakteri patogen lain (Hartati et al., 2020). Kontaminasi mikroba dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah. Menurut Anggraini (2018), kontaminasi koliform bisa memicu diare, gastroenteritis, disentri, dan penyakit pencernaan lainnya. Lebih lanjut, infeksi bakteri patogen seperti Vibrio cholerae, Salmonella spp., dan Shigella spp. yang umum ditemukan pada air tercemar dapat menyebabkan penyakit serius seperti kolera jika tidak segera ditangani.
Sebagai konsumen, kita bisa mengurangi risiko dengan memilih minuman dari tempat bersih, memperhatikan kualitas air, dan kebersihan peralatan. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mencegah berbagai gangguan kesehatan akibat cemaran mikroorganisme. Melalui analisis pangan, kualitas minuman dapat dipantau, keamanan pangan terjaga, dan konsumen mendapat perlindungan lebih baik terhadap produk yang dikonsumsi. Minuman yang aman bukan hanya yang tampak menarik dan segar, tetapi yang telah memenuhi standar mutu dan keamanan.
Referensi:
Badan Standarisasi Nasional. 2025. Minuman Teh dalam Kemasan SNI 3143:2025. Jakarta: BSN.
Anggraini, W. I. A. 2018. Hubungan Personal Higiene Penjamah dengan Keberadaan Bakteri Coliform dan Escherichia coli Pada Es Jeruk di Pasar Kawak Kelurahan Rejosari Kecamatan Kawedanan Magetan. Skripsi. Peminatan Kesehatan Lingkungan. Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun.
Habibah, U. 2016. Analisis Cemaran Bakteri Coliform dan Identifikasi Escherichia coli Pada Air Minum Isi Ulang (AMIU) Depot di Kelurahan Pondok Cabe Ilir Kota Tangerang Selatan Tahun 2016. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hartati, Y., Arum, W., dan Telisa, I. 2020. Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Ayam Malbi. Kediri: Chakra Brahmanda Lentera.
Maesyaroh, M. P. 2026. Pentingnya Analisis Pangan dalam Menjamin Keamanan, Mutu, dan Nilai Gizi Produk Pangan di Kehidupan Sehari-hari. Hybrida. Vol. 6(2).
Setyati, W. A., Pringgenies, D., Pamungkas, D. B. P., dan Suryono, C. A. 2022. Monitoring Bakteri Coliform Pada Pasir Pantai dan Air Laut di Wisata Pantai Marina dan Pantai Baruna. Jurnal Kelautan Tropis. Vol. 25(1): 113-120.
Wiratna, G., Rahmawati, Linda, R. 2019. Angka Lempeng Total Mikroba pada Minuman Teh di Kota Pontianak. Protobiont. Vol. 8(2): 69-73.



