Kaifatul Ula Hedar
Mahasiswa Unversitas Sultan Ageng Tirtayasa
kaifa28hedar@gmail.com
Akhir-akhir ini tidak jarang kita menemukan berbagai merk madu komersial yang mengklaim dirinya sebagai “100% madu murni” atau “madu hutan asli!”. Namun, nyatanya masih ada beberapa produk yang sebenarnya hanyalah sirup gula pekat yang diberi aroma dan perasa mirip madu. Maraknya produk madu komersial palsu telah menjadi kekhawatiran masyarakat global karena produknya masuk ke dalam kelompok produk yang sering dipalsukan, bersama dengan minyak zaitun, susu, dan rempah-rempah.
Bagi orang awam, membedakan antara madu asli dengan madu oplosan lewat penampilannya saja hampir mustahil. Dampak beredarnya produk madu komersial palsu ini tidak hanya sebatas rasa saja, tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia sebagai konsumen karena madu palsu justru akan meningkatkan kadar gula darah akibat kandungan gula tambahan yang tinggi. mitos-mitos tak berdasar seperti “madu asli tidak dikerubungi semut” atau madu asli tidak membeku di kulkas” seringkali justru menyesatkan. Oleh karena itu, analisis pangan hadir sebagai solusi ilmiah objektif yang dapat mengungkap kebenaran di balik kandungan pemberi rasa manis madu ini.
Rasa manis pada madu alami terbentuk dihasilkan oleh lebah dari sari bunga tanaman hutan. Selain itu, rasa manis ini juga berasal dari enzim yang dihasilkan oleh lebah ketika proses pematangan madu, yang dikenal sebagai enzim diastase. Melalui kedua faktor penyusun rasa manis ini, analisis pangan dapat menentukan kualitas madu melalui berbagai metode, mulai dari metode konvensional maupun metode kimiawi.
Metode konvensional merupakan metode pengujian sederhana yang dapat dengan mudah dilakukan oleh orang awam, seperti pengujian kelarutan, pengujian buih dan keruh, serta pengujian pemanasan. Akan tetapi, pengujian dengan metode ini tidak dapat diukur secara pasti dan dapat memberikan hasil yang tidak sesuai. Kini produk madu palsu sudah banyak yang mampu lolos dari pengujian sederhana, sehingga diperlukan pengujian analisis yang dapat mengkaji lebih dalam lagi kandungan dalam madu.
Metode analisis pangan seperti penentuan enzim diastase sering digunakan oleh ahli laboratorium untuk mendeteksi kandungan madu palsu karena enzim ini murni dihasilkan oleh lebah sehingga tidak terdeteksinya enzim ini pada suatu produk madu komersial dapat menjadi indikasi keberadaan madu palsu karena yang terdeteksi hanya kandungan gula saja.
Analisis kadar gula dengan metode Luff Schoorl juga dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan madu palsu di antara banyaknya produk madu komersial yang beredar di pasaran. Metode ini bekerja dengan mengukur kadar sukrosa pada madu, di mana madu alami umumnya mengandung gula pereduksi seperti fruktosa dan glukosa sedangkan sukrosa umumnya ditemukan pada sirup gula, sehingga ketika suatu produk madu memiliki kadar sukrosa yang tinggi setelah diuji, hal ini dapat menjadi indikasi keberadaan madu palsu karena madu yang digunakan telah dicampur dengan sukrosa.
Dua dari banyaknya metode analisis pangan tersebut menjadi bukti bahwa analisis pangan dapat menjadi bekal pengetahuan untuk mencegah produk pangan yang dapat membahayakan kesehatan. Dengan analisis pangan, manusia sebagai konsumen tidak hanya dapat melindungi diri, tetapi juga dapat mendorong ekosistem industri pangan yang lebih jujur dan bertanggung jawab.
Referensi:
Ichsan, D. S., Hafidzah, T. S., Putri, S. B., Aurene, S. V., & Nurdin, I. (2022). Deteksi madu palsu dan kualitas madu dengan enzim diastase. Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan, 16(3), 278-283.
Lubis, N., Sofiyani, S., & Junaedi, E. C. (2022). Penentuan kualitas madu ditinjau dari kadar sukrosa dengan metode Luff Schoorl. Jurnal Sains dan Kesehatan, 4(3), 290-297.



